-->


Sekilas "The Siswanto Institute" "The Siswanto Institute" ini sebagai tempat kajian, curah rasa dan pemikiran, wahana urun rembug dan berbagi praktik baik. Memuat isue strategis aktual dan faktual, baik lingkup nasional, regional, maupun global. Berhubungan dengan dunia Pendidikan, Politik, Agama, Sains dan Teknologi, Pembelajaran, Bisnis-Kewirausahaan, Opini, Merdeka Belajar dan pernak-perniknya. Pembahasan dan informasi terutama dalam Pendidikan Vokasi-SMK dan contain lainnya. Selamat berbagi dan menikmati sajian kami. Menerima masukan, kritik, sumbangsih tulisan artikel dan pemikiran, semoga bermanfaat.

Membaca Motif Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Madiun

- October 29, 2026
advertise here
advertise here

 

Membaca Motif Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Madiun

Oleh: Muhammad Iqbal, Ph.D.

Associate Professor, Universitas Paramadina

Kasus pembunuhan ibu dan anak yang diduga dilakukan oleh suami siri mengejutkan masyarakat. Kekejaman yang dilaporkan, mulai dari mencekik, memutilasi, membakar, hingga menggiling bagian tubuh korban untuk menghilangkan jejak.

Terlebih, terduga pelaku merupakan pria berusia 40 tahun, berpendidikan tinggi, dan bekerja sebagai supervisor perusahaan swasta.

Apakah ini sekadar luapan emosi atau kejahatan yang diperhitungkan?

Dalam psikologi kriminal, agresivitas tidak selalu muncul akibat kehilangan kendali emosi.

Anderson dan Bushman (2002) membedakan agresi yang bersifat reaktif, yakni dipicu kemarahan atau frustrasi, dengan agresi instrumental, yaitu kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu.

Konflik emosional dapat memicu kekerasan awal, tetapi tindakan berikutnya bisa melibatkan perencanaan untuk menghilangkan bukti atau menghindari hukuman.

Robert Agnew (1992) menjelaskan bahwa tekanan, konflik, dan penolakan dapat meningkatkan risiko perilaku menyimpang. Namun, tekanan psikologis tidak otomatis menjadikan seseorang pembunuh. Regulasi emosi, kontrol diri, dan nilai moral turut menentukan respons individu.

Persoalan emosi dan kontrol diri menjadi hal penting dalam pengambilan keputusan, istilah lainnya "sumbu" pendek dan ini berhubungan dengan kematangan emosi dan pengasuhan

Apakah mutilasi menunjukkan sadisme?

Sadisme merupakan kecenderungan memperoleh kepuasan dari penderitaan orang lain (Buckels dkk., 2013).

Namun, kekejaman ekstrem tidak otomatis membuktikan sadisme. Dalam psikologi forensik dikenal defensive dismemberment, yakni mutilasi untuk menyembunyikan identitas korban atau menghilangkan bukti.

Dengan demikian, motif sadistik harus dibedakan dari tindakan yang bertujuan menghindari konsekuensi hukum.

Bagaimana dengan narsisme dan psikopati?

Karakteristik narsistik dapat berkaitan dengan kebutuhan merasa superior, mendominasi, dan mengendalikan orang lain. Penolakan dapat dipersepsikan sebagai ancaman harga diri sehingga meningkatkan risiko agresi (Kjærvik & Bushman, 2021).

Sementara itu, psikopati berkaitan dengan manipulasi, rendahnya empati, kurangnya rasa bersalah, dan perilaku antisosial.

Namun, narsisme, psikopati, dan sadisme bukanlah hal yang sama. Ketiganya tidak dapat disimpulkan hanya dari kekejaman tindakan tanpa pemeriksaan psikologi forensik.

Kecerdasan Tinggi Bukan Jaminan Moralitas

Orang cerdas mampu merencanakan tindakan dan memperhitungkan konsekuensinya. Namun, kecerdasan tidak otomatis menghasilkan empati dan kematangan moral.

Bandura (1999) menjelaskan konsep moral disengagement, ketika seseorang membenarkan tindakan salah, menyalahkan korban, atau mengabaikan penderitaan orang lain demi kepentingannya.

Dalam perspektif rational choice, sebagian kejahatan bahkan melibatkan perhitungan keuntungan dan risiko, meskipun didasarkan pada penilaian yang keliru secara moral.

Kejahatan ekstrem dapat muncul dari interaksi karakter kepribadian, tekanan psikologis, rendahnya empati, serta keputusan yang menempatkan kepentingan pribadi di atas hak hidup orang lain.

Memahami mekanisme psikologis bukan berarti membenarkan kejahatan ataupun menetapkan diagnosis terhadap pelaku.

Pada akhirnya, dalam sebagian kejahatan, persoalannya bukan karena seseorang tidak mampu membedakan benar dan salah, melainkan karena ia memilih melakukan kesalahan demi kepentingannya sendiri.

Kecerdasan membantu manusia memahami konsekuensi, tetapi integritas moral menentukan bagaimana kecerdasan itu digunakan.

Tekanan Hidup

Dalam kasus ini patut diduga keputusan membunuh juga dipengaruhi oleh tekanan hidup, karena pelaku dan korban diduga melakukan "kah-kuh" (menikah rasa selingkuh) diam-diam dan tentu saja menimbulkan kecemasan dan ketakutan, menikah diam-diam juga menimbulkan tekanan tersendiri baik secara psikologis maupun ekonomi karena beban hidup yang bertambah karena harus membiayai dua "dapur" 

Ditambah lagi rasa cemburu korban yang membuat pelaku "naik pitam" dan akhirnya melakukan pembunuhan 

Persoalan tekanan hidup ini saya kira juga dipengaruhi oleh faktor lain dan perlu juga di dalami apakah ada hubungan dengan cicilan,  "pinjol" dan "judol" yang membuat kerusakan pada "kimiawati" otak sehingga menyebabkan irasional dan "sumbu" pendek dalam menyelesaikan persoalan hidup 

Kesimpulan 

Kalau dilihat dari kronologis kasus ini maka faktor kontrol diri, kematangan emosi  dan tekanan hidup menjadi faktor penting berbanding motif lainnya, kesadisan pelaku patut diduga lebih kepada kekhawatiran akan terbongkarnya kasus ini sehingga diduga kesadisan yang dilakukan untuk menghilangkan jejak dan barang bukti

Faktor media/tontonan atau yang dikenal dengan "social learning " bisa menginspirasi pelaku dalam melakukan kejahatan 

Untuk itu pemeriksaan psikologi penting dilakukan oleh psikolog untuk mendapatkan gambaran kepribadian pelaku dan mendalami motif pembunuhan sebenarnya, Wallahualam.

Advertisement advertise here
This Newest Prev Post

Promo Buku

Promo Buku
Bunga Rampai Pemikiran Pendidikan

Supervisi Pendidikan

Pengembangan Kebijakan Pendidikan

Logo TSI

Logo TSI
Logo The Siswanto Institue
 

Start typing and press Enter to search