Perjalanan Berliku dari Guru SMK, sampai Jadi Dosen di UNY
Dua tiga tahun berjalan, diawal tahun Tahun 1998, sambil kuliah disore hari, masuk semester 5, saya mulai mengajar di sebuah SMK swasta, untuk mengasah keberanian, dan menambah uang saku bekal kuliah. Sebuah perjalanan yang tidak pernah saya lupakan. Bagaimana tidak, disaat yang lain bermain, jalan-jalan, asyik mendengarkan lagu, musik dan sederet fasilitas kiriman orang tuanya. Saya harus berjibaku bagaimana bisa menghidupi sendiri dalam perantauan.
Masih bersyukur akan nikmat Allah. Sekuat tenaga orang tua di desa, sekalipun tidak bersekolah dengan segala daya upaya memberikan dorongan dan motivasi, kalau tidak dibilang uang kiriaman saya cukupkan untuk menambah bekal hidup. Bisa dikata "tahun pertaruhan menggembleng diri menjadi lebih kuat lagi". Tak ada kata hanya ingin kuliah, pokoke kuliah dimana saja asalakan bisa sambil kerja. "Kuliah sambil kerja dan Kerja sambil kuliah" baru oke, dipikiran saya kala itu.
Tahun tersebut dimana saya merasakan prihatin sekali bahkan seringkali tidur dimasjid bukan halangan. Kos didepan masjid untuk bisa bergaul dan bertemen dengan orang-orang yang baik. Menjadi marbot dimasjid dilalui, menjadi aktivis kampus yang sering tinggal dimasjid.

Tahun 1998, tahun reformasi, saat itu saya beranikan diri belajar berdiri didepan kelas SMK, adalah bentuk keberanian tersendiri. Dimana saya mulai mengajar di sekolah SMK swasta di Kota Semarang. Saat itu saya masih muda, idealis, dan penuh semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa lewat ruang kelas. Lebih tepatnya adalah bagaiamana keinginan untuk bisa "Kuliah Sambil Kerja" dan Kerja Sambil Kuliah".
Kini, setelah dua puluh delapan tahun berlalu, saya sekarang sudah berpindah (mutasi) menjadi dosen disebuah Perguruan Tinggi Negeri (PT)N di Yogyakarta tepatnya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sebuah kampus yang saya sendiri tak pernah mengenyam pendidikan disana. Rupanya takdir Allah, memang tiada yang tahu. Itulah kehidupan datang silih berganti. Saya tak pernah menduga, bermimpipun tak pernah, kalau suatu saat bisa menjadi bagian dari keluarga besar UNY, sebuah LPTK yang ternama yang cukup bergensi dibanding eks LPTK lain (katanya).
Ada enam SMK yang pernah saya bekerja dari awal sampai sekarang. Mulai SMK Tugu Suharto Semarang, SMK Pondok Modern Selamat Kendal, SMK NU 04 Patebon, SMK NU 03 Kaliwungu, SMK Bina Utama Kendal. dan terakhir SMK Negeri 4 Kendal. Keluh kesah, suka duka telah kulalui. Itu sudah hal biasa muncul silih berganti kadang jenuh- kadang juga suka. Jika dikembalikan lagi pentingnya niat ibadah, berjuang lillahi taa'la, dan menyenangkan orang tua.
Menjadi guru dipenghujung tahun 1998-an. Bukan hal yang mudah. apalagi disaat sedang nyambi kuliah. keterbatsan sarana dan prasarana didapati utamnya bagi SMK swasta yang harus babat balas, jauh dari kata lengkap masih banyak perjuangan. Demikian juga, metode pembelajaran masih konvensional, dan materi ajar belum banyak dikuasai. Hanya dengan bekal keberanian saja. Buku-buku masih langka. Anak-anak tak ada semangat belajar. Jika ingin lancar berdiri didepan kelas, usahakan menguasai tiga hal. Metode pembelajaran, Manajemen kelas (penguasaan kelas) dan menguasai materi yang akan diajarkan.
Saya mengajar mata pelajaran Teknik Kendaraan Ringan Otomotif. Dimana terkenal anaknya suka bandel dan suka bolos. Saya masih ingat harus bersama menghadapi anak didik yang beraneka ragam latar belakang. Namun ada suka dan duka diantaranya, menjadi guru bukan hanya pekerjaan, tapi panggilan jiwa. Ada banyak suka dan tentu tak sedikit pula duka yang mewarnai perjalanan saya sampai menjadi guru di SMK Negeri 4 Kendal.
Adapun suka yang bisa saya rasakan. Pertama, lingkungan sekolah yang mendukung. SMK Negeri 4 Kendal, adalah tempat yang kondusif untuk bertumbuh. Kami para guru didukung untuk mengembangkan diri, diberi kesempatan mengikuti pelatihan, seminar, hingga studi lanjut. Saya pun melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor.
Siswa-Siswa Hebat dan Inspiratif. Setiap tahun, saya bertemu dengan siswa-siswa luar biasa yang tak hanya cerdas secara akademik, namun juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Banyak dari mereka yang kemudian menjadi pemimpin dan memasuki dunia kerja dan industri sesuai pilihan bidangnya masing-masing. Namun tak sedikit pula saya menemui anak yang pas-pasan. Anak yang tak mampu baik secara kecerdasan maupun secara keuangan. Ada pula yang akhirnya putus sekolah karena tidak mampu meneruskan.
Rekan-rekan guru di SMK Negeri 4 Kendal, delapan belas tahun saya membersamai sampai seperti keluarga kedua bagi saya. Saya saling mendukung, saling menguatkan, dan bersama-sama berjuang menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Tidak ada kata "bekerja sendiri", semua dilakukan secara kolaboratif, saling bantu dan peduli satu sama lain.
Di SMK Negeri 4 Kendal, jika bisa memanfaatkan waktu, bisa tumbuh menjadi lebih baik, Bisa mengembangkan diri diluar, saya juga bisa mengembangkan organisasi diluar sekolah, meningkatkan kemampuan dalam mengajar dan menulis. Dari sanalah mulai memikirkan pentingnya berseksperesi lewat tulisan artikel dan pembuatan buku-buku yang mulai saya buat. Sudah banyak tulisan dan buku, HKI yang saya buat.
Rasa suka dan duka dihadapi, Pertama, Tekanan Target dan Harapan yang Tinggi. Sebagai sekolah yang menuju "unggulan", ekspektasi terhadap guru sangat tinggi. Terkadang beban administrasi, tanggung jawab membina siswa, dan tuntutan prestasi bisa sangat menguras energi.
Kedua, masa dimana saya harus mengembangkan diri mutasi ke Dosen di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tidak mudah saya harus terpaksa berpisah dengan teman sejawat, kolega dan murid-murid yang sudah saya anggap seperti anak sendiri, namun kemudian harus berpindah kerja.
Ketiga, Kesulitan Menghadapi Perubahan Cepat. Dunia pendidikan berubah cepat. Kurikulum berganti, teknologi berkembang pesat. Ada kalanya saya merasa tertinggal dan harus mengejar ketertinggalan itu dengan ekstra kerja keras.
Tidak semua orang memahami betapa besar perjuangan guru. Kadang, apresiasi tidak sebanding dengan dedikasi. Tapi saya belajar untuk tetap ikhlas, karena mendidik adalah ladang amal jariyah.
Menulis menjadi pelarian sekaligus kekuatan saya. Setiap pengalaman di kelas, saya tuliskan di blog. Setiap tantangan, saya tuangkan dalam artikel. Dan dari sana, saya belajar bahwa berbagi bisa menjadi bentuk ibadah. Lewat tulisan, saya ingin menginspirasi guru-guru lain agar tak pernah berhenti belajar. Bahwa meski sering dilupakan, guru punya peran besar dalam mencetak masa depan bangsa.
Menjadi guru selama lebih dari 28 tahun bukan sekadar soal mengajar. Ini adalah soal kesetiaan pada nilai-nilai luhur: sabar, jujur, ikhlas, dan penuh cinta. Saya telah menyaksikan generasi demi generasi tumbuh, dan saya merasa menjadi bagian kecil dalam kesuksesan mereka. Saya percaya, pendidikan yang baik bukan hanya yang mencetak siswa berprestasi, tapi yang membentuk manusia berhati nurani.
Saya mungkin tak tahu kapan pensiun, tapi saya tahu bahwa saya akan terus menjadi guru—meski tak lagi berdiri di depan kelas. Karena guru yang sesungguhnya adalah mereka yang tak pernah berhenti belajar dan berbagi. Terima kasih, SMK Negeri 4 Kendal. Tempat ini bukan hanya sekolah. Ia adalah rumah, tempat saya bertumbuh, tempat saya jatuh dan bangkit, dan tempat saya belajar menjadi manusia seutuhnya.
Menjadi guru di sini adalah kehormatan. Bertahan selama 28 tahun adalah pengabdian. Dan menulis kisah ini adalah bentuk syukur yang tak ternilai.


