Oleh : Dr. Bahrodin
Di era di mana setiap orang ingin terlihat paling benar dan bijak di media sosial, menjadi pribadi yang bijaksana justru adalah tentang rendah hati dan kepekaan. Kebijaksanaan sejati tidak membutuhkan pengakuan, ia hadir dalam tindakan dan tutur kata yang menenangkan. Berikut adalah caranya.
1. Dengarkan untuk memahami, bukan untuk menanggapi. Orang bijak memahami bahwa setiap orang punya perspektif unik. Ketika seseorang bercerita, tahan dorongan untuk langsung memberi nasihat atau menceritakan pengalaman pribadimu. Fokuslah sepenuhnya pada apa yang mereka rasakan dan butuhkan. Terkadang, orang hanya perlu didengarkan, bukan disolusi.
2. Gunakan kekuatan bertanya. Alih-alih langsung menyatakan pendapat, ajukan pertanyaan yang membuka wawasan. Tanyakan, "Apa yang membuatmu memilih jalan itu?" atau "Bagaimana perasaanmu tentang keputusan tersebut?" Pertanyaan yang tepat membantu orang lain menemukan jawabannya sendiri, dan kamu terlihat sebagai fasilitator, bukan sosok yang sok tahu.
3. Akui ketidaktahuan dengan lapang dada. Tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada orang yang berlagak tahu segalanya. Kebijaksanaan sejati justru terletak pada keberanian untuk mengatakan "Saya tidak tahu" atau "Saya belum paham tentang hal itu." Pengakuan jujur ini justru membangun kredibilitas dan kepercayaan.
4. Bagilah pelajaran hidup sebagai cerita. Bukan wejangan, orang tidak suka dikhotbahi, tetapi hampir semua orang suka mendengar cerita. Alih-alih mengatakan "Kamu harus bersyukur," coba ceritakan pengalaman pribadimu tentang momen dimana kamu belajar tentang rasa syukur. Cerita jauh lebih mudah dicerna dan terasa lebih otentik.
5. Puji kelebihan orang lain dengan tulus. Kebijaksanaan berarti mampu melihat kebaikan dan potensi dalam diri orang lain. Berikan pujian yang spesifik dan tulus, seperti "Aku suka caramu menangani situasi tadi, sangat tenang dan pasti." Pujian yang tulus tidak pernah terkesan menjilat, justru mencerminkan kedewasaanmu.
6. Hindari bahasa yang absolut dan menghakimi. Kurangi penggunaan kata-kata seperti "selalu," "tidak pernah," atau "harus." Ganti dengan kalimat yang lebih terbuka, seperti "Menurut pengalaman saya, cara ini bisa dicoba," atau "Mungkin ada perspektif lain yang bisa kita pertimbangkan." Bahasa seperti ini mengajak diskusi, bukan debat.
7. Amati sebelum ikut bicara. Dalam diskusi kelompok, terutama yang panas, jangan terburu-buru menyampaikan pendapat. Amati dulu dinamika yang terjadi, dengarkan semua sudut pandang, dan baru kemudian menyumbang pemikiran ketika memang dibutuhkan. Orang yang bijak tahu kapan waktunya bicara dan kapan waktunya mengamati.
8. Praktekkan kebijaksanaan dalam tindakan kecil. Kebijaksanaan bukan hanya soal kata-kata, tapi juga perbuatan. Menawarkan bantuan tanpa diminta, mengakui kesalahan, atau memberi jalan kepada orang lain adalah bentuk kebijaksanaan yang nyata. Tindakan seperti ini berbicara lebih keras daripada ratusan kata-kata bijak.
9. Jangan takut terlihat konyol atau belajar dari kesalahan. Bijaksana bukan berarti selalu benar. Justru, orang yang bijak berani mencoba, gagal, dan tertawa atas kekonyolannya sendiri. Dengan tidak mengambil diri terlalu serius, kamu menunjukkan bahwa kebijaksanaan adalah proses belajar yang terus menerus, bukan status yang harus dipertahankan.
10. Biarkan orang lain yang menyimpulkan. Kebijaksanaanmu jangan pernah menyebut diri sendiri bijak. Biarkan orang lain yang merasakan dan menyimpulkannya. Kebijaksanaan sejati akan terpancar sendiri melalui caramu berpikir, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Ketika kamu tidak berusaha membuktikan apapun, disanalah kamu benar-benar terlihat bijak.#ES
Direfensi dari Media Sosial
