Tom Peters : Orang Hebat Tidak Menciptakan Pengikut, Tapi Menciptakan Orang Hebat Lainnya
Oleh : Dr. Bahrodin
Dalam banyak hal, masyarakat sering menilai kehebatan seseorang dari seberapa banyak pengikut yang ia miliki, seberapa besar pengaruhnya terhadap orang lain, atau seberapa kuat posisinya dalam hierarki sosial. Namun, Peters mengingatkan bahwa ukuran kehebatan bukanlah dominasi atau jumlah pengikut, melainkan kemampuan melahirkan generasi baru yang juga mampu berdiri dengan gagasan, karakter, dan kehebatannya sendiri. Pemimpin sejati bukanlah mereka yang ingin orang lain terus bergantung padanya, melainkan yang mendorong orang lain untuk menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Dalam praktiknya, banyak pemimpin yang secara tidak sadar terjebak pada hasrat untuk mempertahankan kekuasaan dengan cara menjaga pengikut agar tetap lemah. Mereka menciptakan ketergantungan, bukan kemandirian. Padahal, kepemimpinan sejati adalah tentang memberdayakan orang lain. Pemimpin besar membagikan ilmu, memberi kesempatan, serta menciptakan ruang aman agar orang-orang di sekitarnya berani bereksperimen, membuat keputusan, bahkan mengambil risiko. Dengan demikian, pengaruh seorang pemimpin tidak berhenti pada dirinya, melainkan berlipat ganda melalui orang-orang yang ia bimbing.
Gagasan Peters juga relevan dengan dunia pendidikan dan organisasi modern. Guru yang hebat, misalnya, bukan hanya mengajar agar murid menghafal pelajaran, tetapi juga menginspirasi mereka untuk menjadi pemikir kritis, kreatif, dan mandiri. Begitu pula dalam organisasi, seorang manajer atau pemimpin yang visioner tidak sekadar mengarahkan pekerjaan, tetapi membentuk tim yang mampu mengambil keputusan cerdas tanpa harus selalu menunggu instruksi. Kehebatan seseorang justru diukur dari seberapa banyak orang lain yang berhasil tumbuh karena kehadirannya.
Pada akhirnya, kutipan ini memberi pesan bahwa kehebatan sejati bersifat transformatif, bukan transaksional. Orang hebat meninggalkan warisan berupa nilai, semangat, dan teladan, bukan sekadar popularitas atau kekuasaan. Mereka tidak haus akan pengakuan diri, melainkan bahagia melihat orang lain melampaui dirinya. Dari sinilah lahir masyarakat yang maju: ketika setiap orang berusaha menjadi hebat, lalu menularkan kehebatannya kepada orang lain, hingga tercipta lingkaran kebaikan yang tak terputus.#
Direfensi dari Media Sosial