-->


Sekilas "The Siswanto Institute" "The Siswanto Institute" ini sebagai tempat kajian, curah rasa dan pemikiran, wahana urun rembug dan berbagi praktik baik. Memuat isue strategis aktual dan faktual, baik lingkup nasional, regional, maupun global. Berhubungan dengan dunia Pendidikan, Politik, Agama, Sains dan Teknologi, Pembelajaran, Bisnis-Kewirausahaan, Opini, Merdeka Belajar dan pernak-perniknya. Pembahasan dan informasi terutama dalam Pendidikan Vokasi-SMK dan contain lainnya. Selamat berbagi dan menikmati sajian kami. Menerima masukan, kritik, sumbangsih tulisan artikel dan pemikiran, semoga bermanfaat.

Tujuh Kebiasaan Diam yang Bikin Elegan

- August 29, 2025
advertise here
advertise here

 Tujuh Kebiasaan Diam yang Bikin Elegan

Oleh : Dr. Bahrodin


Banyak orang salah paham. Mereka mengira elegan itu hanya soal pakaian mewah, jam tangan mahal, atau mobil berkilau. Padahal, elegan justru lebih sering hadir dalam hal yang tak terlihat: cara kita diam. Diam bukan berarti pasif atau tidak tahu apa-apa, justru dalam diam ada kekuatan yang bisa membuat seseorang tampak lebih berkelas.

Fakta menarik: Dalam bukunya The Power of Silence (2016), Adam Jaworski menegaskan bahwa diam memiliki fungsi sosial dan simbolik yang sering diremehkan. Diam bisa menciptakan kesan otoritas, menghormati orang lain, bahkan memperlihatkan kendali diri yang jauh lebih kuat daripada kata-kata berlebihan.

Mari kita bahas bagaimana diam yang tepat bisa menjadi tanda elegansi yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari.

1. Diam ketika emosi memuncak

Dalam buku Emotional Agility karya Susan David (2016), dijelaskan bahwa kemampuan menahan reaksi spontan ketika marah adalah bentuk kecerdasan emosional yang tinggi. Seseorang yang tidak buru-buru membalas dengan kata-kata kasar justru menunjukkan superioritas.

Contohnya sederhana, ketika teman atau rekan kerja tiba-tiba menyinggung harga diri kita, reaksi umum adalah membalas dengan serangan balik. Namun, orang yang elegan memilih diam sejenak, memberi jeda, baru berbicara dengan tenang setelah pikirannya jernih. Kebiasaan ini tidak hanya membuat lawan bicara bingung, tetapi juga meninggalkan kesan bahwa kita tidak mudah diatur oleh emosi. Di titik inilah elegansi lahir dari kontrol diri. Menariknya, kebiasaan ini juga bisa dipelajari lebih dalam di ruang-ruang refleksi seperti yang sering saya bahas di logikafilsuf dengan konten eksklusif yang membantu melatih ketenangan mental.

2. Diam saat mendengarkan

Kate Murphy dalam You’re Not Listening (2020) menekankan bahwa mendengarkan adalah seni yang jarang dikuasai orang. Kebanyakan orang hanya diam karena menunggu giliran bicara, bukan benar-benar mendengarkan. Elegan hadir ketika kita diam penuh perhatian, membuat lawan bicara merasa dihargai.

Bayangkan percakapan sederhana dengan sahabat yang sedang curhat. Kita tidak perlu buru-buru memberi solusi atau menimpali dengan cerita kita sendiri. Dengan diam, memberi ruang, dan sesekali mengangguk, sahabat merasa didengar sepenuhnya. Inilah momen kecil yang membuat diam lebih elegan daripada seribu kata nasihat. Kebiasaan ini pun menunjukkan bahwa kita punya empati dan kedewasaan yang jarang dimiliki banyak orang.

3. Diam dalam forum publik

Buku Quiet karya Susan Cain (2012) menjelaskan bagaimana orang introver justru memiliki keunggulan melalui kekuatan diam. Dalam forum besar, orang yang tidak banyak bicara tapi sekali membuka suara isinya bernas akan lebih dihargai daripada yang terus-menerus mendominasi percakapan.

Di ruang rapat, ada orang yang berbicara tanpa henti demi terlihat pintar. Namun, sosok yang diam, mengamati, lalu berbicara singkat tapi tepat sasaran justru mencuri perhatian. Diam di sini bukan tanda inferior, tetapi strategi membangun otoritas. Elegansi tampak ketika kata-kata tidak dihamburkan, melainkan ditakar dengan hati-hati.

4. Diam untuk menjaga rahasia

Dalam The Laws of Human Nature karya Robert Greene (2018), dibahas bahwa kekuatan seseorang sering diukur dari kemampuannya mengendalikan informasi. Orang yang elegan tahu kapan harus berbicara, tapi juga tahu kapan harus diam menjaga rahasia.

Misalnya dalam pergaulan sehari-hari, kita sering diberi kepercayaan oleh teman untuk menyimpan cerita pribadi. Orang yang tak mampu diam dan membocorkan rahasia akan cepat kehilangan wibawa. Sebaliknya, mereka yang mampu menutup mulut justru dihargai karena terlihat dapat diandalkan. Diam dalam hal ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang membangun reputasi.

5. Diam ketika diprovokasi

Ryan Holiday dalam The Daily Stoic (2016) menekankan pentingnya prinsip stoisisme: tidak semua hal layak mendapat reaksi. Elegan terlihat ketika kita memilih diam daripada terpancing provokasi.

Di media sosial misalnya, komentar pedas atau ejekan sering muncul. Mereka yang buru-buru membalas biasanya justru terlihat kecil dan mudah goyah. Namun orang yang membiarkan komentar itu berlalu tanpa respon memperlihatkan kelas berbeda. Diam di sini menjadi perisai yang membuat orang tidak mudah dikendalikan orang lain. Elegan adalah ketika kita tak perlu menjawab setiap serangan.

6. Diam untuk refleksi diri

Dalam Meditations karya Marcus Aurelius, terdapat banyak catatan yang lahir dari keheningan dan refleksi pribadi. Elegan tidak hanya tentang bagaimana kita tampil di depan orang lain, tapi juga bagaimana kita jujur pada diri sendiri dalam keheningan.

Contohnya, sebelum tidur, seseorang bisa memilih hening tanpa distraksi gawai, lalu merenung apa yang sudah dilakukan sepanjang hari. Diam dalam refleksi membuat kita lebih sadar akan kekurangan dan potensi diri. Orang yang punya waktu untuk refleksi biasanya lebih bijak dalam bertindak. Dan kebijaksanaan adalah inti dari elegansi sejati.

7. Diam sebagai bentuk keanggunan sosial

Direfensi dari Media Sosial

Advertisement advertise here

Promo Buku

Promo Buku
Bunga Rampai Pemikiran Pendidikan

Supervisi Pendidikan

Pengembangan Kebijakan Pendidikan

Logo TSI

Logo TSI
Logo The Siswanto Institue
 

Start typing and press Enter to search