Thursday, July 29, 2021

Menjawab Tantangan Global Manajemen Kependidikan

             Menjawab Tantangan Global Manajemen Kependidikan


          Pendidikan sebagai tonggak dasar pengembangan sumber daya manusia dalam era globalisasi saat ini, haruslah menjadi andalan untuk menghasilkan insan-insan cendikia yang kompetitif. Bagaimana Pendidikan menghadapi tantangan globalisasi tersebut menjadi hal yang penting untuk diantisipasi. Globalisasi  yang  didukung  dengan  percepatan  perkembangan  teknologi  yang sedemikian   cepat   telah   meniadakan   batas-batas   ekonomi,   perdagangan,   dan perpindahan sumber daya manusia. Globalisasi memang sudah tidak dapat ditolak kehadirannya.  Globalisasi  membuka  kesempatan  baru  dan  keuntungan  potensial, namun sekaligus menciptakan risiko dan ancaman yang serius.
          Manajemen   Pendidikan   sebagai   komponen   utama   pengelolaan   institusi pendidikan, harus dilakukan secara terintegrasi terhadap kelembagaan maupun aktivitasnya. Pengelolaan secara terencana, terorganisir, terarahkan, dan terukur, harus selalu diselaraskan  dengan  percepatan dan  tantangan globalisasi  dari  segala aspek. Karakteristik generasi kinerja dan budaya organisasi, fleksibilitas dan inovasi, serta adaptabilitas teknologi informasi menjadi faktor-faktor kritis yang harus selalu dikembangkan dan diselaraskan. Tantangan yang teridentifikasi bagi manajemen pendidikan dalam menghadapi era globalisasi adalah, pembaharuan, komunikasi organisasi, strategi, inovasi dan investasi terhadap aset fisik maupun non-fisik. Dalam menghadapi tantangan tersebut maka isu globalisasi harus selalu diselaraskan dengan visi misi, orientasi masa depan jelas dan terarah, mengembangkan manusia secara utuh, konsisten, melayani masyarakat secara menyeluruh, serta penyelarasan teknologi terhadap sumber daya manusia dan proses bisnis.
          Manajemen, Pendidikan, dan Globalisasi merupakan tiga hal pokok yang saling mempengaruhi, saat ini maupun untuk dimasa yang akan datang. Antisipasi terhadap dampak yang ditimbulkan akibat hubungan tersebut perlu dipetakan, dan dibuat formulasi implementasinya. Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan para anak didik dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab. Selain itu, pendidikan diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang bisa memahami  masyarakatnya  dengan  segala  faktor  yang  dapat  mendukung  mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan di dalam kehidupan bermasyarakat.
         Manajemen Pendidikan mempunyai implementasinya  dilihat dari perencanaan, organiting, actuating dan evaluating. Di dalam penggunaan sehari-hari, Manajemen Pendidikan bagaimana bisa mengemas Pendidikan dari hulu sampai hilir. Manajemen pendidikan adalah adalah proses yang perlu diterapkan dalam dunia pendidikan agar tujuan dari pendidikan bisa tercapai. Manajemen merupakan sebuah proses perencanaan, dan pengontrolan sumber daya agar dihasilkan sesuatu yang efektif. Jika dikaitkan dalam dunia pendidikan, maka tujuan akhirnya adalah pada pendidikan tersebut. manajemen akan membentuk pendidikan tersebut menjadi lebih terarah sehingga hasilnya akan lebih baik. Untuk lebih jelasnya, berikut pembahasannya.
          Pengertian manajemen pendidikan yaitu suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dalam mengelola sumber daya yang mana hal itu bisa berupa man, money, materials, method, machines, market, dan segala hal untuk mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efisien. Untuk mewujudkan hal tersebut tentu membutuhkan sebuah rancangan dan perencanaan yang matang sebelumnya. Itulah yang disebut dengan manajemen. Sejalan dengan pengertian di atas, Soebagio Atmodiwirio menjelaskan, manajemen pendidikan adalah proses untuk melakukan perencanaan, melakukan organisasi untuk memimpin dan untuk melakukan pengendalian. Karena manajemen ini dilakukan dalam dunia kependidikan, maka fokusnya dilakukan oleh para tenaga pendidik serta sumber daya dari pendidikan itu sendiri untuk mencapai tujuan pendidikan. Para ahli mengemukakan berbagai pengertian manajemen pendidikan, namun inti dari penjelasan tersebut adalah sama yakni sebuah pengorganisasian pendidikan yang meliputi semua elemen-elemen pendidikan tersebut. Hasil akhirnya adalah tercapainya sebuah tujuan pendidikan yang diharapkan. 

1. Analisis Perencanaan Pendidikan
    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Standar Nasional Pendidikan dalam PP 57 tahun 2021 tentang Standar Pendidikan Nasional (SPN) adalah kriteria minimal tentang sistem Pendidikan di seluruh Indonesia. Ciri-ciri pendidikan dimana beberapa dimensi yang menandai pendidikan berkualitas. Menurut  (Unicef, 2000) meliputi sebagai berikut. 
        Para peserta didik dalam keadaan sehat, terpenuhi gizi dan siap untuk terlibat dalam proses belajar, ada dukungan keluarga dan masyarakat dalam belajar. Kondisi lingkungan sekitar yang sehat, aman, nyaman, terlidungi dan memperhatikan gender serta menyediakan sumber-sumber dan fasilitas yang bermanfaat. Susunan yang termuat dalam kurikulum ada relevansi dalam mendukung pemerolehan keterampilan dasar, khususnya terkait bidang kemahirwacanaan, berhitung dan kecakapan hidup serta pengetahuan yang terkait misalnya masalah gender, kesehatan, nutrisi, pencegahan penyakit menular seperti HIV/AIDS dan kekerasan seksual maupun dalam rumah tangga (KDRT). Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang terlatih dengan menggunakan pendekatan yang berpusat pada anak (child-centred teaching approaches)   dalam kelas dan sekolah yang dikelola dengan baik serta asesmen tepat untuk memfasilitasi belajar  dan mengurangi disparitas. Hasil belajar yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berkaitan dengan tujuan (standar) pendidikan nasional sehingga mereka mampu berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. 
       Dalam hal perencanaan Pendidikan perlu diperhatikan input, proses, output, oucome, dan impack pendidikan Input (masukan) sekolah adalah segala masukan yang dibutuhkan sekolah untuk terjadinya pemrosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. Input sekolah merupakan bahan-bahan yang diperlukan untuk mencapai pembentukan manusia yang disebut manusia seutuhnya. Input sekolah dapat diidentifikasikan mulai dari human (manusia), money (uang), materials (material/bahan-bahan), methods (metode-metode), dan machines (mesin-mesin). Pendidikan tidak boleh diartikan hanya sebagai proses transfer ilmu saja, namun juga harus diartikan sebagai upaya membantu siswa untuk mampu mengenal diri dan lingkungannya. Daniel Goleman, dalam bukunya, menyebutkan bahwa kemampuan mengenal diri dan lingkungannya adalah kemampuan untuk melihat secara objektif atau analisis, dan kemampuan untuk merespon secara tepat, yang membutuhkan kecerdasan otak (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Di samping itu, kecerdasan spiritual (SQ) calon siswa hendaknya dapat terukur saat seleksi siswa baru. Dengan demikian, tes seleksi siswa baru hendaknya dapat mengukur ketiga aspek kecerdasan atau bahkan dapat mengukur berbagai kecerdasan atau multy intellegence. Oleh karena itu, tes seleksi siswa baru tujuannya tidak semata-mata untuk menerima atau menolak siswa tersebut tetapi jauh ke depan untuk mengetahui tingkat kecerdasan siswa. Dengan data tingkat kecerdasan siswa tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan proses pembinaannya dan bahkan dapat untuk menentukan target atau arah pendidikan di masa depan. Pembelajaran yang efektif ini juga sangat terkait dengan guru yang efektif. Good and Brophy (dalam MacGregor, 2007) menjelaskan bahwa guru yang efektif sebagai berikut : Guru yang menggunakan waktu pembelajaran secara maksimal. Menyajikan bahan atau materi pembelajaran  dengan cara tertentu  sehingga memenuhi kebutuhan peserta didik. Memantau program dan kemajuan. Merancang kesempatan belajar bagi peserta didik untuk menerapkan pengalaman belajarnya, Tersedia mengulang kembali jika diperlukan dan mematok harapan tinggi, tetapi tujuan tersebut realistik.

2. Analisis Kepemimpinan Pendidikan 
        Pengertian Kepemimpinan Pendidikan memegang peranan penting dalam menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0. Era tersebut merupakan era globlisasi, dimana teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang cepat sehingga memicu kemajuan ilmu pengetahuan. Salah satu misi mewujudkan visi bangsa Indonesia masa depan yang mewujudkan sistem pendidikan nasional yang demokratis dan berkualitas untuk membentuk akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, berdisiplin dan bertanggung jawab, sehat, berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas bangsa Indonesia.
    Pendidikan pada abad 21 menjadi semakin penting untuk menjamin kepala sekolah memiliki keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi. Sementara itu, kondisi kepala sekolah menjadi perhatian jika dilihat dari cara kinerja, semangat belajar, dan keterampilan untuk menentukan mutu pendidikan. Melihat dari situasi ini sangat mendesak pembentukan guru penggerak berkarakter pada pribadi bangsa. Hal ini didukung oleh usaha pemerintah untuk segera ditanamkan program mendemonstrasikan kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) (Herawan, 2017). Lebih lanjut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mulai tahun 2021 mengimplementasikan penguatan kompetensi dan pengembangan karakter kepala sekolah dan guru melalui Program Sekolah Penggerak dengan prioritas lima intervensi yang saling terkait dengan penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui program pelatihan dan pendampingan intensif dan pembelajaran dengan paradigma baru.

3. Analisis Perilaku Organisasi Pendidikan
    Sebelum kita memahami definisi perilaku organisasi (organizational behaviour) mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu arti dari masing-masing perilaku ataupun organisasi. Kata perilaku dapat diartikan sebagai tindakan, sikap, atau tingkah laku. Sedangkan organisasi yaitu suatu entitas sosial yang secara sadar terkoordinasi, memiliki suatu batas yang relatif dapat diidentifikasi, dan berfungsi secara relatif kontinu (berkesinambungan) untuk mencapai suatu tujuan atau seperangkat tujuan bersama. Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge (2008:11) menyatakan bahwa Perilaku organisasi (organizational behaviour) adalah sebuah bidang studi yang menyelidiki pengaruh yang dimiliki oleh individu, kelompok, dan struktur terhadap perilaku dalam organisasi, yang bertujuan menerapkan ilmu pengetahuan semacam ini guna meningkatkan kefektifan suatu organisasi. Sedangkan Miftah Thoha (2005:5) mendefinisikan perilaku organisasi sebagai suatu studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu.

4. Analisis Manajemen Supervisi dan Evaluasi Pendidikan
    Supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif. Maka peranan supervisor adalah memberi dukungan (support), membantu (assisting), dan mengikutsertakan (shearing).’
    Sebagai Koordinator, sebagai konsultan, sebagai pemimpin, dan sebagai evaluator. ‘Kegiatan utama pendidikan di sekolah adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Selain itu peranan seorang supervisor adalah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas dalam mengembangkan potensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggung jawab. Suasana yang demikian hanya dapat terjadi apabila kepemimpinan dari supervisor itu bercorak demokratis bukan otokraris. Kebanyakan guru seolah-olah mengalami kelumpuhan tanpa inisiatif dan daya kreatif karena supervisor dalam meletakkan interaksi bersifat mematikan.’

5. Analisis Kebijakan Publik dan Mutu Pendidikan
    Dari berbagai literatur dapat diketahui bahwa kebijakan publik dipengaruhi oleh kepemimpinan pada akhirnya yang akan membawa pada peningkatan mutu Pendidikan ndipengaruhi oleh kepemimpinan. Kepemimpinan memiliki makna dan arti yang beranekaragam. Sesuai dengan kapasitas dan pandangan masing-masing individu. Kepemimipinan dapat mencakup berbagai sifat, perilaku, individu, hubungan interaksi dan kerjasama dengan pihak lain baik dari segi kedudukan, jabatan, peran dan pengaruhnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Kepemimpinan juga merupakan proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu.
    Di sinilah pentingnya kepemimpinan dalam menganalisis kebijakan pendidikan dalam upaya pencapaian kualitas pendidikan’.Manajemen Pendidikan akan menghantarkan mutu atau kualitas dengan sistem pendidikan tentunya akan muncul sebuah pertanyaan mengenai bagaimana mutu pendidikan dinilai baik? Dalam Francais School. Sistem mutu pendidikan (1992) menjabarkan pengertian mutu menjadi sebuah conformance to requairements (sama dengan persyaratan). Hal ini ditegaskan bahwa setiap produk/jasa/proses dikatakan bermutu baik jika persyaratan produk/jasa/proses tersebut memiliki kualitas yang tinggi. Singkat cerita bahwa persyaratan sebuah produk/jasa/proses dapat terlihat dari input dan outputnya. Menilai mutu sebuah proses pendidikan, kita terlebih dahulu menjabarkan bagaimana input dan output pendidikan itu sendiri. Mutu sebuah input dari proses pendidikan dapat dikatakan baik atau berkualitas jika di dalam input proses pendidikan itu terdapat informasi yang dibutuhkan untuk menjalankan proses pendidikan dengan baik dan terencana. Informasi tersebut tentunya sudah tertuang di dalam sistem kurikulum pendidikan nasional yang meliputi prosedur proses pendidikan, pengetahuan/kecakapan yang dibutuhkan hingga perlengkapan penunjang proses pendidikan. Sementara output dari proses pendidikan yang baik jika hasil dari proses tersebut dapat menggambarkan bahwa output dari proses pendidikan dapat menjawab dan memenuhi kebutuhan di dalam semua disiplin ilmu.
    Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan jika dalam proses pendidikan itu terdapat komunikasi yang baik, perencanaan yang terstruktur, uji coba yang objektif, dan kerjasama yang berkesinambungan. Komunikasi yang baik dibutuhkan antara orang tua peserta didik dengan para pendidik. Beberapa sekolah sudah memiliki sistem komunikasi yang baik seperti adanya parent teacher conference (pertemua orang tua dan guru) maupun pemberian laporan peserta didik yang tidak hanya memberikan nilai semata melainkan menggambarkan aspek-aspek pendidikan lain dari peserta didik. Perencanaan yang terstruktur seperti yang saya sudah sebutkan adalah adanya kurikulum yang berkesinambungan. Namun pada prakteknya kurikulum pendidikan di Indonesia sering kali berganti dan berubah seiring dengan kebutuhan pendidikan dewasa ini. Uji coba yang objektif dapat dilakukan dalam upaya untuk melihat sejauh mana kecakapan peserta didik maupun pendidik di dalam suatu proses pendidikan itu sendiri. Seperti halnya ujian kompetensi yang harus dilakukan para pendidik. Kerjasama yang berkesinambungan diperlukan untuk mencegah terjadinya kecurangan dalam proses pendidikan. Seperti yang kita ketahui bersama, kecurangan dalam proses pendidikan dewasa ini tidak hanya dilakukan oleh peserta didik dengan cara mencontek saja namun ada beberapa oknum pendidik yang melakukan kecurangan dengan memalsukan ijazah dan sertifikasi lainnya. Komunikasi, perencanaan, uji coba, dan kerjasama yang terus berkesinambungan bersamaan dengan upaya yang dilakukan lembaga pendidikan untuk memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki dengan sebaik-baiknya maka akan mendukung peningkatan mutu pendidikan. Mutu Pendidikan yang sangat bagus pada saat ini sangatlah diperlukan dalam melaksanakan kegiatan Pendidikan.
    Lembaga pendidikan yang formal semacam sekolah harus mencapai mutu yang diinginkan sesuai dengan ketentuan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Peningkatan mutu pendidikan di Indonesia pada saat sekarang ini pencapaiannya belum maksimal seperti seharusnya. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang belum merata ke daerah-daerah menjadikan prioritas yang harus di pantau dan perlu adanya pemerataan di wilayah-wilayah di Indonesia. Banyak daerah terpencil yang belum tersentuh oleh teknologi. Untuk itu tujuan pembelajaran yang belum tercapai harus kita tuntaskan.
    Pembelajaran yang efektif biasanya ditandai dan diukur oleh tingkat ketercapaian tujuan oleh sebagian besar siswa. Tingkat ketercapain itu berarti pula menunjukkan bahwa sejumlah pengalaman belajar secara internal dapat diterima oleh para siswa. ‘Pembelajaran yang efektif itu menurut Kyriacou (2009) mencakup dua hal pokok, yaitu waktu belajar aktif ‘active learning time’ dan kualitas pembelajaran ‘quality of instruction’.  Hal yang pertama berkenaan dengan jumlah waktu yang dicurahkan oleh siswa selama dalam pelajaran berlangsung. Bagaimana para siswa terlibat, engage, dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Hal yang kedua berkaitan dengan kualitas aktual belajar itu sendiri. Artinya, bagaimana proses atau interaksi pembelajaran dapat berlangsung antara guru-siswa, siswa-siswa dan siswa-sumber belajar’.
    Dengan demikian, pembelajaran yang efektif itu tidak bisa dilepaskan dari pembelajaran yang berkualitas karena kualitas hasil belajar itu tergantung pada efektivitas pembelajaran yang terjadi atau dalam proses pembelajaan itu sendiri. Lebih dari 40 tahun data penelitian yang telah dikumpulkan juga memperlihatkan bahwa para peserta didik yang menerima pembelajaran berkualitas tinggi menunjukkan belajar lebih sukses daripada peserta didik yang tidak memperoleh pembelajaran yang berkualitas (Joyce, Weil, & Calhoun, 2003).
    Persoalan pendidikan, khususnya yang berkenaan dengan mutu atau kualitas pendidikan ini menyangkut terselenggaranya mutu proses dan hasil pendidikan. Mutu proses pendidikan dan pembelajaran ini perlu diselaraskan dengan standar proses yang ada. Standar proses, sebagaimana yang dinyatakan dalam pasal (1) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baik pada sistem paket maupun pada sistem kredit semester. Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien (Permendiknas, nomor 41 tahun 2007).
    Bahwa pendidikan di Indonesia membutuhkan standar nasional yang memerlukan penyesuaian terhadap dinamika dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kehidupan masyarakat untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan menjadi pertimbangan pertama terbitnya PP 57 tahun 2021 tentang Standar Pendidikan Nasional.

7. Analisis Manajemen Sistem Informasi di Masa Pandemi Covid-19
     Menurut Masriah, banyak dari masyarakat menerima begitu saja teknologi informasi dan komunikasi modern yang bahkan tidak dapat diakses beberapa dekade lalu. Inovasi-inovasi teknologi informasi dan komunikasi ini, telah lama dianggap sebagai hal tidak penting, selama masa tenang kini menjadi sangat diperlukan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Sekarang telah ada berbagai teknologi digital yang dapat digunakan untuk menambah dan meningkatkan strategi pekerjaan, pembelajaraan dan kesehatan masyarakat. Selama pandemi COVID-19, teknologi memainkan peran penting dalam menjaga kegiatan masyarakat tetap berfungsi pada saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), maupun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM). 
      Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat di era globalisasi saat ini tidak bisa dihindari lagi pengaruhnya terhadap dunia Pendidikan. Oleh sebab itu, Peran pendidik sangat berperan penting dalam pemanfaatan Information, Comunication and Tecnology (ICT), dimana pendidik berperan sebagai desainer pembelajaran. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mengetahui bagaimana dari sisi bidang pendidikan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media untuk meneruskan kegiatan yang tidak dapat dilakukan secara tatap muka dan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan mengajar di sekolah selama pandemi COVID-19. 
    Para guru perlu adaptasi dan mau tidak mau untuk berdampingan dengan ICT, dan terus mengupdate kemampuan ICT-nya untuk memberikan pelayanan pembelajaran agar tidak terjadi kejenuhan saat pembelajaran Work Form Home (WFH)

No comments:

Post a Comment

SUSUNAN PENGURUS PUSAT (PP PPVI-IGVIM) PERIODE TAHUN 2021-2026 PERUBAHAN I

SURAT KEPUTUSAN RESMI (SK PP PPVI-IGVIM) PERIODE  TAHUN 2021-2026 PERUBAHAN I SILAHKAN DOWNLOAD DISINI : SURAT KEPUTUSAN KETUA UMUM PENGURU...