Friday, March 18, 2022

SAMBUTAN KETUA UMUM DALAM DIES NATALIS 1 PPVI-IGVIM KURIKULUM MERDEKA DAN MERDEKA BELAJAR SMK "SOLIDITAS DAN PENGUATAN ORGANISASI"

SAMBUTAN KETUA UMUM DALAM DIES NATALIS 1 PPVI-IGVIM KURIKULUM MERDEKA DAN MERDEKA BELAJAR SMK", DALAM RANGKA DIES NATALIS 1 PPVI-IGVIM, "MENGOKOHKAN SOLIDITAS DAN PENGUATAN ORGANISASI". (Refleksi 1 Tahun PPVI-IGVIM)



Assalamualaikum Warahmatulaahi Wabarrokatuh..

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadhirat Allah SWT, yang telah memberikan limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga kita semua dapat memperingati Dies Natalis 1 PPVI-IGVIM. Berbagai capaian dan giat vokasi yang diraih oleh Pengurus dan anggota sebagai organisasi selama setahun ini sebagai organisasi mandiri dan independen tanpa bantuan pemerintah telah dilakukan. Nama PPVI-IGVIM dikenal dan diperhitungkan keberadaannya dirindukan masyarakat baik, di tingkat regional maupun nasional. Oleh karena itu, kita patut bersyukur atas limpahan karunia ini serta tentunya ucapan terima kasih bagi seluruh pengurus dan anggota PPVI-IGVIM yang telah berkontribusi dalam mencapai prestasi sekarang ini.

Hari ini tepat tanggal 18 Maret 2022, seminggu yang lalu tepat satu tahun usia PPVI-IGVIM, sebagai bayi yang baru lahir baru setahun usianya, rasanya sedang mulai belajar berdiri tertati-tatih.  Banyak pengalaman bisa diambil suka duka dan dinamika mengiringi gerak langkah dan laju organisasi yang berdiri dengan pergolakan cukup tajam.

Alhamdulillah seiring keluarnya legalitas Badan Hukum dengan Surat Keputusan (SK) Kemenkumham Nomor : AHU-0001868.AH.01.07. Tahun 2021. Akte Notaris Bandung, Surjadi Jasin, SH, No. 03 Tanggal 18 Januari 2021, dengan nama Perkumpulan Pendidik Vokasi Indonesia. Yang selanjutnya disebut dengan nama Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (PPVI-IGVIM).

Dengan Kehadiran PPVI-IGVIM sungguh telah mendapat sambutan luar biasa. Pembentukannya telah lama dinantikan oleh semua pihak terutama para vokasiawan. Sebagaian beranggapan PPVI-IGVIM  berpotensi menjadi organisasi yang besar. Bukan untuk menyaingi siapa-siapa. Sehingga kekhawatiran PPVI-IGVIM akan menjadi tandingan dan ancaman organisasi lain, adalah mengada-ada dan tak berdasar sama sekali. Kepada semua organisasi profesi guru (orprof) kita akan tetap berkolaborasi dengan semua pihak.

PPVI-lGVIM keberadaannya sangat dinanti, mengurusi bidang vokasi, mendapat sambutan diluar ekspektasi. Dunia vokasi jauh berbeda dengan dunia pendidikan pada umumnya. Diperlukan sinergitas dan kemitraan kolaboratif berbagai pihak utamanya dengan IDUKA. Marilah berfikir lebih dewasa, untuk ikut mengembangkan dan memajukan potensi bangsa lewat vokasi kuat, menguatkan Indonesia. IGVIM For Indonesia Maju. Kita bangun sinergitas dan kolaboratif strategis antar orprof guru yang mesra. Untuk kemajuan pendidikan di Indonesia utamanya pendidikan vokasi. Kami menganggap siapapun orprof yang lain adalah mitra, dalam memajukan pendidikan, utamanya pendidikan vokasi di negeri tercinta Indonesia

Dies Natalis ini mengambil Tema : "Kurikulum Merdeka dan Merdeka Belajar SMK", dalam Rangka Dies Natalis 1 PPVI-IGVIM, "Mengokohkan Soliditas dan Penguatan Organisasi". Tema ini diambil untuk memperteguh komitmen PPVI-IGVIM sebagai salah orprof guru vokasi di Indonesia yang mempunyai peran strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan nasional dengan mengakselerasi kemajuan Pendidikan vokasi. PPVI-IGVIM senantiasa berupaya bersinergis berbagai kalangan dan elemen masyarakat selama masa pandemi ini.  Berbagai kegiatan dilaksanakan dalam meningkatkan kompetensi pendidik maupun peserta didik.

Peringatan Dies Natalis yang dikemas dalam Webinar Nasional ini diperingati dgn prinsip kesederhanaan dan kepedulian karena masih dalam keprihatinan pandemi Covid-19 yang dilaksanakan secara daring. Kegiatan Dies Natalis ini diharapkan dapat kembali menggerakkan seluruh komponen PP, PW, PD dan anggota seluruh Indonesia menuju  “Kurikulum MERDEKA dan Merdeka BELAJAR SMK”. Dengan "Mengokohkan Soliditas dan Penguatan Organisasi", yang bermutu dan bermartabat dan professional.

"Jalan2 ke Kota Batu, Jangan lupa beli beras. Bila ingin IGVIM bermutu, Kita mesti bekerja keras".

Bpk/Ibu Pengurus PPVI-IGVIM dan undangan lainnya yang saya hormati. Dalam Dies Natalis ke 1 ini, IGVIM sudah banyak acara selama setahun dilaksnakan dari seminar, webinar, pertemuan luring terbatas, MOU, audiensi, dan maupun perekrutan Tamatan/lulusan SMK. Dengan berbagaistake holder dan mitra.

Bpk/Ibu Pengurus anggota dan tamu undangan, KITA MESTI KERJA KERAS, tidak ada seorangpun yang mencapai kesuksesannya tanpa kerja keras. Perubahan tidak akan pernah ada tanpa ada kemauan, keberanian, dan  kerja  keras.  Penentu  kesuksesan  bukan  hanya  kecerdasan  tetapi  juga  kerja keras. Kesuksesan itu bukan ditunggu tetapi diwujudkan lewat usaha dan kegigihan. Kita tidak akan pernah sukses jika kita tidak pernah memulai.

Sukses itu ketika kita berani menerima tantangan dan berani menghadapi masalah. Jangan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, karena waktu tidak pernah tepat  bagi  mereka  yang  menunggu.  Berikan  sesuatu  yang  terbaik untuk  organsiasi ini, maka kita akan mendaptkan yang terbaik juga. Masa depan PPVI-IGVIM dibentuk oleh apa yang kita lakukan hari ini, bukan besok atau lusa. Capaian yang diraih bukan suatu kebetulan tetapi melalui kerja keras. Oleh karrna itu, sebagai Ketua Umum saya memohon : Mari kita bekerja keras, bertindak, melakukan apa yang  bisa kita lakukan, lakukan yang terbaik  dalam  setiap  kesempatan  yang  kita  miliki.  Tidak  ada  rahasia  untuk  sukses. Sukses hanyalah hasil dari persiapan, ketekunan, keuletan, kesabaran, kerja keras dan selalu  belajar  dari  kegagalan, dan sebuah  hasil  tidak  akan  pernah  menghianati prosesnya.

Para Pendiri  sudah menanam  pohon,  bila pohon  itu tidak  dipelihara dengan  baik  maka akan terjadi dua kemungkinan : kemungkinan pertama mati dan kemungkinan kedua hidup menjadi  liar  tidak  terawat. Bila  dipelihara  dengan  baik akan  terjadi  dua kemungkinan,   yaitu :   kemungkinan  pertama   hidup   dan  stagnasi mengingat pemeliharanya   tidak maksimal   karena   banyak   urusan   sampingan/nyambi,   dan kemungkinan  kedua  hidup  subur  berdiri  kokoh,  berkembang,  berbuah  manis dinikmati  dirasakan  oleh  masyarakat,  pohon  itu  menjadi rimbun karena dipelihara dengan sepenuh hati, berproses mengacu pada aturan yang ada maka kita akan memetik buah dari pohon yang ditanam oleh para pendiri itu.

Dari analogi tersebut bahwa PPVI-IGVIM akan menjadi berkembang, menjadi besar bila mau bekerja   keras,   berani   memulai,   berani   menerima   tantangan,   dan   berani menghadapi masalah, punya komitmen bertanggung jawab yang berdasar platform organisasi dengan mengedepankan empat kecerdasan  :  cerdas  spiritual,  intelektual,  emosional,  dan cerdas  sosial.  Dengan demikian pohon yang ditanam itu berbuah manis  bisa kita rasakan dan tidak saja  dinikmati  oleh  anggota PPVI-IGVIM, namun juga oleh seluruh masyarakat.

Harimau  mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya. Untuk mendapatkan hal itu kita perlu bekerja keras, cerdas, tuntas dan ikhlas. Bersatu padu saling asah asih asuh, tanpa ada grundelan dalam hati, yang lalu dan yang sudah biarlah berlalu mari tetap masa depan yang cerah. Hilangkan sekat pribadi, bekerja dengan profesional, move on dan jangan bawa perasaan alias Baper-an.

Buah delima buah markisa = Bersama kita pasti bisa.

Karenanya atas ijin doa restu dan peran serta dukungan semuanya, acara Webinar Nasional "Kurikulum Merdeka dan Merdeka Belajar SMK", dalam Rangka Dies Natalis 1 PPVI-IGVIM, "Mengokohkan Soliditas dan Penguatan Organisasi". Hari Jumat, 18 Maret 2022, pukul 13.30, dengan resmi dinyatakan dibuka. Terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatulaahi Wabarrokatuh..

Kendal, 18 Maret 2022

Ketua Umum PPVI-IGVIM

Edy Siswanto, S.Pd., M.Pd.




Thursday, March 17, 2022

Ucapan Ketua Umum Atas Terselenggaranya Dies Natalis 1 PP PPVI-IGVIM

 Ucapan Ketua Umum Atas Terselenggaranya Dies Natalis 1 PP PPVI-IGVIM

Assalamualaikum wr wb

Salam sejahtera dan salam sehat untuk kita semua

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan  kepada segenap panitia Webinar Nasional dan Dies Natalis 1 PP PPVI-IGVIM "Kurikulum Merdeka dan Merdeka Belajar SMK", dalam Rangka Dies Natalis 1 PPVI-IGVIM, "Mengokohkan Soliditas dan Penguatan Organisasi",

Kepada seluruh PP/ PW dan seluruh anggota PPVI-IGVIM diseluruh tanah air yang sudah terlibat mengayubagyo kebersamaan ini terus dijaga. Semoga menjadikan kebaikan dan  mendatangkan  keberkahan  untuk kita semua, Aamiin...

Atas perhatian dan kerjasama yang baik, kami sampaikan terima kasih.

Wassalamualaikum wr wb


Kendal, 18 Maret 2022

EDY SISWANTO

KETUM PP IGVIM




Friday, October 8, 2021

Workshop Peta Jalan SMK PK dan Pembelajaran Berbasis Projeck dengan Pendekatan Tefa

 Pentingnya Peta Jalan SMK PK dalam Pembelajaran Berbasis Projeck dengan Pendekatan Tefa

 

Penyusunan Peta Jalan atau Roadmap menjadi hal penting bagi sekolah sebagai SMK Pusat Keunggulan (SMK PK). Penyusunan ini sesuai juknis dari pusat, sistematis dan terintegrasi untuk empat tahun kedepan. Roadmap atau yang disebut juga renstra (rencana startegis), RIPS (Rencana Induk Pengembangan Sekolah) atau sejenisnya diartikan sebagai panduan atau rute jalan (peta jalan) untuk menuju ke suatu tempat tujuan tertentu. Peta Jalan ini akan dijadikan acuan, pedoman atau model dalam penyusunan Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RKAS).

Demikian disampaikan Suharto, S.Pd., M.Pd Kepala SMK Negeri 4 Kendal saat membuka Workhsop Penyusunan Program Tahun 2021 dan Revisi Peta Jalan (Roadmap) Tahun 2021-2024. Acara berlangsung dua hari tanggal 6-7 Oktober 2021, di Aula sekolah tersebut. Sebagai Konsekwensi ditetapkannya SMK PK menyesuaikan renstra dan akselerasi program dari Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi. Peta Jalan Pengembangan SMK Negeri 4 Kendal dibuat dan dirancang sesuai hasil analisis potensi dan kondisi riil sekolah. Dianalisis SWOT, disertai rumusan masalah, dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) pelaksanaannya untuk disetujui dan disyahkan Cabang Dinas Wilayah XIII. Acara dihadiri peserta yang tergabung dalam tim pengembang sekolah. Narasumber Subagyo, S.Pd., M.Pd (Pengawas SMK Kabupaten Semarang, Drs. Langgeng Budiharso, M.Si (Pengawas Pembina SMK Negeri 4 Kendal) dan dari pihak Industri hadir General Manager PT Horison Grup, Arifandi.

Sebagai satu-satunya SMK Negeri Program Keahlian Kuliner di Kabupaten Kendal, yang ditunjuk sebagai SMK PK, siap memenuhi kebutuhan pangsa pasar utamanya bidang pariwisata, responsif mengimbangi dan mengantisipasi dinamika kebutuhan tenaga kerja dengan meningkatkan kinerjanya. Utamanya pembelajaran berbasis projeck rill, menghasilkan produk dengan pendekatan Tefa, dari mulai makanan ringan, snack, sampai produk unggulan “Bantadu” (bandeng tanpa duri), yang siap bersaing dan meramaikan pasaran. Packaging produk menarik dan dukungan pihak industri, dunia usaha dan kerja (IDUKA) bersinergi dalam hal digital marketing, sampai promosi untuk oleh-oleh dan kunjungan pejabat. Tutur Arifandi selaku GM PT Horison sebagai industri mitra.

Tuntutan untuk dapat mengikuti standar IDUKA yang dinamis, banyaknya permintaan pesanan dari luar, promosi lebih lanjut dan dukungan orang tua peserta didik, dalam izin untuk bekerja di sector pariwisata maupun kuliner di luar daerah. Terbuka lebarnya wirausaha bidang kuliner, menjadi tantangan tersendiri.

Upaya yang dilakukan oleh SMK Negeri 4 Kendal untuk mempertahankan keunggulan, dengan menggandeng keterlibatan IDUKA dalam ruang lingkup penyelenggaraan pendidikan vokasi sesui ketentuan pemerintah pusat diantaranya penyelarasan kurikulum, praktek kerja industri (prakerin) peserta didik dan magang guru, guru tamu, uji sertifikasi kompetensi peserta didik dan guru, penyerapan alumni di dunia kerja, riset terapan mendukung Tefa, dan komitmen pemanfaatan CSR dari Industri mitra.

Workshop ini menjadii penting bukan hanya menghasilkan output roadmap pedoman empat tahun kedepan. Namun sebagai titik awal diterapkannya pembelajaran berbasis projeck riil dengan pendekatan Tefa. Sebagai konsekwensi tuntutan IDUKA yang sangat dinamis. #Edy Siswanto







Thursday, July 29, 2021

Basis Filosofi Riset Pendekatan Positivism dan Interpretative


Basis Filosofi Riset Ilmu Sosial pada Pendekatan Positivism dan Interpretative

Positivisme adalah riset yang menjelaskan bagaimana variabel-variabel saling berinteraksi, membentuk suatu kejadian, dan menghasilkan sesuatu. Semuanya dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Sering penjelasn-penjelasan tersebut dikembangkan dan diuji dalam studi eksperimental. Diantara kontribusi penting dari tipe riset ini adalah analisis multivariate dan teknik-teknik peramalan statistik. Contoh judul penelitian kuantitatif : "Pengaruh Kecerdasan Emosional, Motivasi dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pemalang".

Perspektif interpretivist/constructivist merupakan riset kualitatif, memandang dunia sebagai sesuatu yang dikonstruksi, ditafsirkan, dan dialami oleh orang dalam interaksinya dengan sesama serta dalam sistem sosial yang lebih luas. Menurut paradigma ini sifat dasar penelitian adalah penafsiran, sedangkan tujuannya adalah untuk memahami fenomena tertentu. Bukan untuk melakukan generalisasi dari populasi. Penelitian pada paradigma ini besifat alamiah karena diterapkan pada situasi dunia nyata. Contoh Peneltian Kualitatif : Pelaksanaan Gugus Kendali Mutu Terpadu di Divisi Produksi PT Perkasa Engineering Semarang

Desain penelitian Kualitatif.

Bersifat fleksibel, subjektif dan tidak membuat generelisasi, bercirikan

1. Subjek yang diteliti berkedudukan sama dengan peneliti, jadi tidak sebagai objek atau yang lebih rendah kedudukannya. 

2. Data dikumpulkan dalam kondisi yang asli atau alamiah (natural setting) 

3. Peneliti sebagai alat penelitian, peneliti sebagai alat utama pengumpul data.

4. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri melalui pengamatan dan wawancara 

5. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka. 

6. Dalam pengumpulan data, data dideskripsikan dan ditulis dalam laporan. 

7. Penelitian kualitatif lebih mengutamakan proses daripada hasil, dalam pengumpulan data, berbagai variabel yang saling mempengaruhi diperhatikan hasil dan akibatnya. 

8. Apa yang ada di balik tingkah laku manusia merupakan hal yang pokok bagi penelitian kualitatif.

9. Apa yang diucapkan dan dilakukan orang (subyek penelitian) dicari maknanya berdasar kerangka pemikiran dan perasaan dari subyek itu sendiri.

10. Mengutamakan data langsung atau "first hand". 

11. Peneliti dituntut untuk melakukan sendiri kegiatan penelitian di lapangan.

11. Menggunakan metode triangulasi secara ekstensif, baik tringulasi metode maupun triangulasi sumber data, untuk menghilangkan subjektivitas.

12. Data dikumpulkan dari berbagai sumber dan menggunakan berbagai metode, untuk meningkatkan objektivitas.

13. Mementingkan rincian kontekstual. Peneliti mengumpulkan dan mencatat data yang sangat rinci mengenai hal-hal yang dianggap bertalian dengan masalah yang diteliti. 

14. Mengutamakan perspektif emik, artinya mementingkan pandangan subyek penelitian, yaitu bagaimana subjek memandang dan menafsirkan dunia dari sisi pendiriannya sendiri. 

15. Verifikasi. Menguji kebenaran data, misalnya melalui pengamatan terhadap kasus yang bertentangan atau negatif. 

16. Jika menggunakan sampel, pengambilan sampel dilakukan secara purposif. Sampelnya sedikit dan dipilih berdasar tujuan penelitian.

17. Menggunakan "Audit trail". Mengecek kebenaran data dengan melacak (mengikuti jejak) pengambilan data, peneliti harus mencantumkan metode pengumpulan dan analisis data, agar bisa dilacak. Misalnya menggunakan metode dokumenter (data yang ada di dalam arsip, foto, rekaman audio, rekaman video).

18. Mengadakan analisis sejak awal penelitian. Data yang diperoleh langsung dianalisis, dilanjutkan dengan pencarian data lagi dan dianalisis, demikian seterusnya sampai dianggap mencapai hasil yang memadai.

19. Teori bersifat dari dasar (grounded theory). Dengan data yang diperoleh dari penelitian di lapangan dapat dirumuskan kesimpulan yang menjadi teori substantif



Menjawab Tantangan Global Manajemen Kependidikan

             Menjawab Tantangan Global Manajemen Kependidikan


          Pendidikan sebagai tonggak dasar pengembangan sumber daya manusia dalam era globalisasi saat ini, haruslah menjadi andalan untuk menghasilkan insan-insan cendikia yang kompetitif. Bagaimana Pendidikan menghadapi tantangan globalisasi tersebut menjadi hal yang penting untuk diantisipasi. Globalisasi  yang  didukung  dengan  percepatan  perkembangan  teknologi  yang sedemikian   cepat   telah   meniadakan   batas-batas   ekonomi,   perdagangan,   dan perpindahan sumber daya manusia. Globalisasi memang sudah tidak dapat ditolak kehadirannya.  Globalisasi  membuka  kesempatan  baru  dan  keuntungan  potensial, namun sekaligus menciptakan risiko dan ancaman yang serius.
          Manajemen   Pendidikan   sebagai   komponen   utama   pengelolaan   institusi pendidikan, harus dilakukan secara terintegrasi terhadap kelembagaan maupun aktivitasnya. Pengelolaan secara terencana, terorganisir, terarahkan, dan terukur, harus selalu diselaraskan  dengan  percepatan dan  tantangan globalisasi  dari  segala aspek. Karakteristik generasi kinerja dan budaya organisasi, fleksibilitas dan inovasi, serta adaptabilitas teknologi informasi menjadi faktor-faktor kritis yang harus selalu dikembangkan dan diselaraskan. Tantangan yang teridentifikasi bagi manajemen pendidikan dalam menghadapi era globalisasi adalah, pembaharuan, komunikasi organisasi, strategi, inovasi dan investasi terhadap aset fisik maupun non-fisik. Dalam menghadapi tantangan tersebut maka isu globalisasi harus selalu diselaraskan dengan visi misi, orientasi masa depan jelas dan terarah, mengembangkan manusia secara utuh, konsisten, melayani masyarakat secara menyeluruh, serta penyelarasan teknologi terhadap sumber daya manusia dan proses bisnis.
          Manajemen, Pendidikan, dan Globalisasi merupakan tiga hal pokok yang saling mempengaruhi, saat ini maupun untuk dimasa yang akan datang. Antisipasi terhadap dampak yang ditimbulkan akibat hubungan tersebut perlu dipetakan, dan dibuat formulasi implementasinya. Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan para anak didik dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab. Selain itu, pendidikan diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang bisa memahami  masyarakatnya  dengan  segala  faktor  yang  dapat  mendukung  mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan di dalam kehidupan bermasyarakat.
         Manajemen Pendidikan mempunyai implementasinya  dilihat dari perencanaan, organiting, actuating dan evaluating. Di dalam penggunaan sehari-hari, Manajemen Pendidikan bagaimana bisa mengemas Pendidikan dari hulu sampai hilir. Manajemen pendidikan adalah adalah proses yang perlu diterapkan dalam dunia pendidikan agar tujuan dari pendidikan bisa tercapai. Manajemen merupakan sebuah proses perencanaan, dan pengontrolan sumber daya agar dihasilkan sesuatu yang efektif. Jika dikaitkan dalam dunia pendidikan, maka tujuan akhirnya adalah pada pendidikan tersebut. manajemen akan membentuk pendidikan tersebut menjadi lebih terarah sehingga hasilnya akan lebih baik. Untuk lebih jelasnya, berikut pembahasannya.
          Pengertian manajemen pendidikan yaitu suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dalam mengelola sumber daya yang mana hal itu bisa berupa man, money, materials, method, machines, market, dan segala hal untuk mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efisien. Untuk mewujudkan hal tersebut tentu membutuhkan sebuah rancangan dan perencanaan yang matang sebelumnya. Itulah yang disebut dengan manajemen. Sejalan dengan pengertian di atas, Soebagio Atmodiwirio menjelaskan, manajemen pendidikan adalah proses untuk melakukan perencanaan, melakukan organisasi untuk memimpin dan untuk melakukan pengendalian. Karena manajemen ini dilakukan dalam dunia kependidikan, maka fokusnya dilakukan oleh para tenaga pendidik serta sumber daya dari pendidikan itu sendiri untuk mencapai tujuan pendidikan. Para ahli mengemukakan berbagai pengertian manajemen pendidikan, namun inti dari penjelasan tersebut adalah sama yakni sebuah pengorganisasian pendidikan yang meliputi semua elemen-elemen pendidikan tersebut. Hasil akhirnya adalah tercapainya sebuah tujuan pendidikan yang diharapkan. 

1. Analisis Perencanaan Pendidikan
    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Standar Nasional Pendidikan dalam PP 57 tahun 2021 tentang Standar Pendidikan Nasional (SPN) adalah kriteria minimal tentang sistem Pendidikan di seluruh Indonesia. Ciri-ciri pendidikan dimana beberapa dimensi yang menandai pendidikan berkualitas. Menurut  (Unicef, 2000) meliputi sebagai berikut. 
        Para peserta didik dalam keadaan sehat, terpenuhi gizi dan siap untuk terlibat dalam proses belajar, ada dukungan keluarga dan masyarakat dalam belajar. Kondisi lingkungan sekitar yang sehat, aman, nyaman, terlidungi dan memperhatikan gender serta menyediakan sumber-sumber dan fasilitas yang bermanfaat. Susunan yang termuat dalam kurikulum ada relevansi dalam mendukung pemerolehan keterampilan dasar, khususnya terkait bidang kemahirwacanaan, berhitung dan kecakapan hidup serta pengetahuan yang terkait misalnya masalah gender, kesehatan, nutrisi, pencegahan penyakit menular seperti HIV/AIDS dan kekerasan seksual maupun dalam rumah tangga (KDRT). Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang terlatih dengan menggunakan pendekatan yang berpusat pada anak (child-centred teaching approaches)   dalam kelas dan sekolah yang dikelola dengan baik serta asesmen tepat untuk memfasilitasi belajar  dan mengurangi disparitas. Hasil belajar yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berkaitan dengan tujuan (standar) pendidikan nasional sehingga mereka mampu berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. 
       Dalam hal perencanaan Pendidikan perlu diperhatikan input, proses, output, oucome, dan impack pendidikan Input (masukan) sekolah adalah segala masukan yang dibutuhkan sekolah untuk terjadinya pemrosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. Input sekolah merupakan bahan-bahan yang diperlukan untuk mencapai pembentukan manusia yang disebut manusia seutuhnya. Input sekolah dapat diidentifikasikan mulai dari human (manusia), money (uang), materials (material/bahan-bahan), methods (metode-metode), dan machines (mesin-mesin). Pendidikan tidak boleh diartikan hanya sebagai proses transfer ilmu saja, namun juga harus diartikan sebagai upaya membantu siswa untuk mampu mengenal diri dan lingkungannya. Daniel Goleman, dalam bukunya, menyebutkan bahwa kemampuan mengenal diri dan lingkungannya adalah kemampuan untuk melihat secara objektif atau analisis, dan kemampuan untuk merespon secara tepat, yang membutuhkan kecerdasan otak (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Di samping itu, kecerdasan spiritual (SQ) calon siswa hendaknya dapat terukur saat seleksi siswa baru. Dengan demikian, tes seleksi siswa baru hendaknya dapat mengukur ketiga aspek kecerdasan atau bahkan dapat mengukur berbagai kecerdasan atau multy intellegence. Oleh karena itu, tes seleksi siswa baru tujuannya tidak semata-mata untuk menerima atau menolak siswa tersebut tetapi jauh ke depan untuk mengetahui tingkat kecerdasan siswa. Dengan data tingkat kecerdasan siswa tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan proses pembinaannya dan bahkan dapat untuk menentukan target atau arah pendidikan di masa depan. Pembelajaran yang efektif ini juga sangat terkait dengan guru yang efektif. Good and Brophy (dalam MacGregor, 2007) menjelaskan bahwa guru yang efektif sebagai berikut : Guru yang menggunakan waktu pembelajaran secara maksimal. Menyajikan bahan atau materi pembelajaran  dengan cara tertentu  sehingga memenuhi kebutuhan peserta didik. Memantau program dan kemajuan. Merancang kesempatan belajar bagi peserta didik untuk menerapkan pengalaman belajarnya, Tersedia mengulang kembali jika diperlukan dan mematok harapan tinggi, tetapi tujuan tersebut realistik.

2. Analisis Kepemimpinan Pendidikan 
        Pengertian Kepemimpinan Pendidikan memegang peranan penting dalam menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0. Era tersebut merupakan era globlisasi, dimana teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang cepat sehingga memicu kemajuan ilmu pengetahuan. Salah satu misi mewujudkan visi bangsa Indonesia masa depan yang mewujudkan sistem pendidikan nasional yang demokratis dan berkualitas untuk membentuk akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, berdisiplin dan bertanggung jawab, sehat, berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas bangsa Indonesia.
    Pendidikan pada abad 21 menjadi semakin penting untuk menjamin kepala sekolah memiliki keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi. Sementara itu, kondisi kepala sekolah menjadi perhatian jika dilihat dari cara kinerja, semangat belajar, dan keterampilan untuk menentukan mutu pendidikan. Melihat dari situasi ini sangat mendesak pembentukan guru penggerak berkarakter pada pribadi bangsa. Hal ini didukung oleh usaha pemerintah untuk segera ditanamkan program mendemonstrasikan kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) (Herawan, 2017). Lebih lanjut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mulai tahun 2021 mengimplementasikan penguatan kompetensi dan pengembangan karakter kepala sekolah dan guru melalui Program Sekolah Penggerak dengan prioritas lima intervensi yang saling terkait dengan penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui program pelatihan dan pendampingan intensif dan pembelajaran dengan paradigma baru.

3. Analisis Perilaku Organisasi Pendidikan
    Sebelum kita memahami definisi perilaku organisasi (organizational behaviour) mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu arti dari masing-masing perilaku ataupun organisasi. Kata perilaku dapat diartikan sebagai tindakan, sikap, atau tingkah laku. Sedangkan organisasi yaitu suatu entitas sosial yang secara sadar terkoordinasi, memiliki suatu batas yang relatif dapat diidentifikasi, dan berfungsi secara relatif kontinu (berkesinambungan) untuk mencapai suatu tujuan atau seperangkat tujuan bersama. Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge (2008:11) menyatakan bahwa Perilaku organisasi (organizational behaviour) adalah sebuah bidang studi yang menyelidiki pengaruh yang dimiliki oleh individu, kelompok, dan struktur terhadap perilaku dalam organisasi, yang bertujuan menerapkan ilmu pengetahuan semacam ini guna meningkatkan kefektifan suatu organisasi. Sedangkan Miftah Thoha (2005:5) mendefinisikan perilaku organisasi sebagai suatu studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu.

4. Analisis Manajemen Supervisi dan Evaluasi Pendidikan
    Supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif. Maka peranan supervisor adalah memberi dukungan (support), membantu (assisting), dan mengikutsertakan (shearing).’
    Sebagai Koordinator, sebagai konsultan, sebagai pemimpin, dan sebagai evaluator. ‘Kegiatan utama pendidikan di sekolah adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Selain itu peranan seorang supervisor adalah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas dalam mengembangkan potensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggung jawab. Suasana yang demikian hanya dapat terjadi apabila kepemimpinan dari supervisor itu bercorak demokratis bukan otokraris. Kebanyakan guru seolah-olah mengalami kelumpuhan tanpa inisiatif dan daya kreatif karena supervisor dalam meletakkan interaksi bersifat mematikan.’

5. Analisis Kebijakan Publik dan Mutu Pendidikan
    Dari berbagai literatur dapat diketahui bahwa kebijakan publik dipengaruhi oleh kepemimpinan pada akhirnya yang akan membawa pada peningkatan mutu Pendidikan ndipengaruhi oleh kepemimpinan. Kepemimpinan memiliki makna dan arti yang beranekaragam. Sesuai dengan kapasitas dan pandangan masing-masing individu. Kepemimipinan dapat mencakup berbagai sifat, perilaku, individu, hubungan interaksi dan kerjasama dengan pihak lain baik dari segi kedudukan, jabatan, peran dan pengaruhnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Kepemimpinan juga merupakan proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu.
    Di sinilah pentingnya kepemimpinan dalam menganalisis kebijakan pendidikan dalam upaya pencapaian kualitas pendidikan’.Manajemen Pendidikan akan menghantarkan mutu atau kualitas dengan sistem pendidikan tentunya akan muncul sebuah pertanyaan mengenai bagaimana mutu pendidikan dinilai baik? Dalam Francais School. Sistem mutu pendidikan (1992) menjabarkan pengertian mutu menjadi sebuah conformance to requairements (sama dengan persyaratan). Hal ini ditegaskan bahwa setiap produk/jasa/proses dikatakan bermutu baik jika persyaratan produk/jasa/proses tersebut memiliki kualitas yang tinggi. Singkat cerita bahwa persyaratan sebuah produk/jasa/proses dapat terlihat dari input dan outputnya. Menilai mutu sebuah proses pendidikan, kita terlebih dahulu menjabarkan bagaimana input dan output pendidikan itu sendiri. Mutu sebuah input dari proses pendidikan dapat dikatakan baik atau berkualitas jika di dalam input proses pendidikan itu terdapat informasi yang dibutuhkan untuk menjalankan proses pendidikan dengan baik dan terencana. Informasi tersebut tentunya sudah tertuang di dalam sistem kurikulum pendidikan nasional yang meliputi prosedur proses pendidikan, pengetahuan/kecakapan yang dibutuhkan hingga perlengkapan penunjang proses pendidikan. Sementara output dari proses pendidikan yang baik jika hasil dari proses tersebut dapat menggambarkan bahwa output dari proses pendidikan dapat menjawab dan memenuhi kebutuhan di dalam semua disiplin ilmu.
    Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan jika dalam proses pendidikan itu terdapat komunikasi yang baik, perencanaan yang terstruktur, uji coba yang objektif, dan kerjasama yang berkesinambungan. Komunikasi yang baik dibutuhkan antara orang tua peserta didik dengan para pendidik. Beberapa sekolah sudah memiliki sistem komunikasi yang baik seperti adanya parent teacher conference (pertemua orang tua dan guru) maupun pemberian laporan peserta didik yang tidak hanya memberikan nilai semata melainkan menggambarkan aspek-aspek pendidikan lain dari peserta didik. Perencanaan yang terstruktur seperti yang saya sudah sebutkan adalah adanya kurikulum yang berkesinambungan. Namun pada prakteknya kurikulum pendidikan di Indonesia sering kali berganti dan berubah seiring dengan kebutuhan pendidikan dewasa ini. Uji coba yang objektif dapat dilakukan dalam upaya untuk melihat sejauh mana kecakapan peserta didik maupun pendidik di dalam suatu proses pendidikan itu sendiri. Seperti halnya ujian kompetensi yang harus dilakukan para pendidik. Kerjasama yang berkesinambungan diperlukan untuk mencegah terjadinya kecurangan dalam proses pendidikan. Seperti yang kita ketahui bersama, kecurangan dalam proses pendidikan dewasa ini tidak hanya dilakukan oleh peserta didik dengan cara mencontek saja namun ada beberapa oknum pendidik yang melakukan kecurangan dengan memalsukan ijazah dan sertifikasi lainnya. Komunikasi, perencanaan, uji coba, dan kerjasama yang terus berkesinambungan bersamaan dengan upaya yang dilakukan lembaga pendidikan untuk memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki dengan sebaik-baiknya maka akan mendukung peningkatan mutu pendidikan. Mutu Pendidikan yang sangat bagus pada saat ini sangatlah diperlukan dalam melaksanakan kegiatan Pendidikan.
    Lembaga pendidikan yang formal semacam sekolah harus mencapai mutu yang diinginkan sesuai dengan ketentuan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Peningkatan mutu pendidikan di Indonesia pada saat sekarang ini pencapaiannya belum maksimal seperti seharusnya. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang belum merata ke daerah-daerah menjadikan prioritas yang harus di pantau dan perlu adanya pemerataan di wilayah-wilayah di Indonesia. Banyak daerah terpencil yang belum tersentuh oleh teknologi. Untuk itu tujuan pembelajaran yang belum tercapai harus kita tuntaskan.
    Pembelajaran yang efektif biasanya ditandai dan diukur oleh tingkat ketercapaian tujuan oleh sebagian besar siswa. Tingkat ketercapain itu berarti pula menunjukkan bahwa sejumlah pengalaman belajar secara internal dapat diterima oleh para siswa. ‘Pembelajaran yang efektif itu menurut Kyriacou (2009) mencakup dua hal pokok, yaitu waktu belajar aktif ‘active learning time’ dan kualitas pembelajaran ‘quality of instruction’.  Hal yang pertama berkenaan dengan jumlah waktu yang dicurahkan oleh siswa selama dalam pelajaran berlangsung. Bagaimana para siswa terlibat, engage, dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Hal yang kedua berkaitan dengan kualitas aktual belajar itu sendiri. Artinya, bagaimana proses atau interaksi pembelajaran dapat berlangsung antara guru-siswa, siswa-siswa dan siswa-sumber belajar’.
    Dengan demikian, pembelajaran yang efektif itu tidak bisa dilepaskan dari pembelajaran yang berkualitas karena kualitas hasil belajar itu tergantung pada efektivitas pembelajaran yang terjadi atau dalam proses pembelajaan itu sendiri. Lebih dari 40 tahun data penelitian yang telah dikumpulkan juga memperlihatkan bahwa para peserta didik yang menerima pembelajaran berkualitas tinggi menunjukkan belajar lebih sukses daripada peserta didik yang tidak memperoleh pembelajaran yang berkualitas (Joyce, Weil, & Calhoun, 2003).
    Persoalan pendidikan, khususnya yang berkenaan dengan mutu atau kualitas pendidikan ini menyangkut terselenggaranya mutu proses dan hasil pendidikan. Mutu proses pendidikan dan pembelajaran ini perlu diselaraskan dengan standar proses yang ada. Standar proses, sebagaimana yang dinyatakan dalam pasal (1) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baik pada sistem paket maupun pada sistem kredit semester. Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien (Permendiknas, nomor 41 tahun 2007).
    Bahwa pendidikan di Indonesia membutuhkan standar nasional yang memerlukan penyesuaian terhadap dinamika dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kehidupan masyarakat untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan menjadi pertimbangan pertama terbitnya PP 57 tahun 2021 tentang Standar Pendidikan Nasional.

7. Analisis Manajemen Sistem Informasi di Masa Pandemi Covid-19
     Menurut Masriah, banyak dari masyarakat menerima begitu saja teknologi informasi dan komunikasi modern yang bahkan tidak dapat diakses beberapa dekade lalu. Inovasi-inovasi teknologi informasi dan komunikasi ini, telah lama dianggap sebagai hal tidak penting, selama masa tenang kini menjadi sangat diperlukan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Sekarang telah ada berbagai teknologi digital yang dapat digunakan untuk menambah dan meningkatkan strategi pekerjaan, pembelajaraan dan kesehatan masyarakat. Selama pandemi COVID-19, teknologi memainkan peran penting dalam menjaga kegiatan masyarakat tetap berfungsi pada saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), maupun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM). 
      Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat di era globalisasi saat ini tidak bisa dihindari lagi pengaruhnya terhadap dunia Pendidikan. Oleh sebab itu, Peran pendidik sangat berperan penting dalam pemanfaatan Information, Comunication and Tecnology (ICT), dimana pendidik berperan sebagai desainer pembelajaran. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mengetahui bagaimana dari sisi bidang pendidikan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media untuk meneruskan kegiatan yang tidak dapat dilakukan secara tatap muka dan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan mengajar di sekolah selama pandemi COVID-19. 
    Para guru perlu adaptasi dan mau tidak mau untuk berdampingan dengan ICT, dan terus mengupdate kemampuan ICT-nya untuk memberikan pelayanan pembelajaran agar tidak terjadi kejenuhan saat pembelajaran Work Form Home (WFH)

Bentuk Globalisasi di Era Disrupsi dan Pandemi Covid-19

Membentuk Pola Pikir Sistematis Pengaruh Globalisasi terhadap 

Manajemen Pendidikan di Indonesia

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak lepas dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

Ketidaksiapan bangsa kita dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan bermoral yang dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancah globalisasi, dapat menimbulkan dampak positif dan negatif dari pengaruh globalisasi dalam pendidikan. Dampak positif globalisasi terhadap pengajaran Interaktif multimedia. Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti internet dan komputer. Apabila dulu, guru menulis dengan sebatang kapur, sesekali membuat gambar sederhana atau menggunakan suara-suara dan sarana sederhana lainnya untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi. Sekarang sudah ada komputer. Sehingga tulisan, film, suara, music, gambar hidup, dapat digabungkan menjadi suatu proses komunikasi. Dalam fenomena balon atau pegas, dapat terlihat bahwa daya itu dapat mengubah bentuk sebuah objek. Dulu, ketika seorang guru berbicara tentang bagaimana daya dapat mengubah bentuk sebuah objek tanpa bantuan multimedia, para siswa mungkin tidak langsung menangkapnya. Sang guru tentu akan menjelaskan dengan contoh-contoh, tetapi mendengar tak seefektif melihat.

Dampak positif terhadap perubahan corak pendidikan. Mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah diamandemen, UU Sisdiknas, dan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan paradigma pendidikan dari corak sentralistis menjadi desentralistis. Sekolah-sekolah atau satuan pendidikan berhak mengatur kurikulumnya sendiri yang dianggap sesuai dengan karakteristik sekolahnya. Kemudahan Dalam mengakses informasi dalam dunia pendidikan, teknologi hasil dari melambungnya globalisasi seperti internet dapat membantu siswa untuk mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan serta sharing riset antarsiswa terutama dengan mereka yang berjauhan tempat tinggalnya.

            Adapun Globalisasi juga memiliki dampak negatif yaitu bahaya dunia maya. Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga dapat memberikan dampak negatif bagi siswa.Terdapat pula, Aneka macam materi yang berpengaruh negatif bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet.

Tidak hanya itu dampak negatif globalisasi juga membuat siswa ketergantungan. Mesin-mesin penggerak globalisasi seperti komputer dan internet dapat menyebabkan kecanduan pada diri siswa ataupun guru. Sehingga guru ataupun siswa terkesan tak bersemangat dalam proses belajar mengajar tanpa bantuan alat-alat tersebut. 

Upaya meningkatan akselerasi pencapaian mutu agar dapat menjawab tantangan globalisasi dan kemajuan IPTEK, serta pergerakan tenaga ahli yang sangat masif. Maka persaingan antar bangsa pun berlangsung sengit dan intensif sehingga menuntut lembaga pendidikan untuk mampu melahirkan output pendidikan yang berkualitas, memiliki keahlian dan kompetensi profesional yang siap menghadapi kompetisi global. Pada era teknologi informasi, guru bukanlah satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan.  Tapi peran guru telah berubah menjadi fasilitaor, motivator dan dinamasitator bagi peserta didik. Dalam kondisi seperti itu diharapkan guru  dapat memberikan peran lebih besar. Dengan kata lain peran pendidik tidak dapat digantikan oleh siapapun dan apapun serta era apapun. Untuk melaksanakan beberapa upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan tantangan terbesar yang harus segera dilakukan oleh pemerintah (kemendikbudristek). Upaya-upaya yang sedang dilakukan pada saat ini adalah dengan melalui :

Pertama, menyelesaikan sertifikasi guru. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Guru profesional merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas. Sertifikat pendidik adalah sebuah sertifikat yang ditandatangani oleh perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi sebagai bukti formal pengakuan profesionalitas guru yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional. Dalam Undang-undang Guru dan Dosen (UUGD) disebut sertifikat pendidik. Pendidik yang dimaksud di sini adalah guru dan dosen. Proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru disebut sertifikasi guru dan untuk dosen disebut sertifikasi dosen. Dengan sertifikasi bisa, menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sertifikasi dapat meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan. Dan dapat meningkatkan martabat dan mningkatkan profesionalitas guru.

Kedua, Akreditasi Sekolah. Akreditasi sekolah adalah kegiatan penilaian yang dilakukan oleh pemerintah dan atau lembaga mandiri yang berwenang untuk menentukan kelayakan program dan atau satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non-formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, sebagai bentuk akuntabilitas publik yang dilakukan secara obyektif, adil, transparan, dan komprehensif dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Alasan kebijakan akreditasi sekolah di Indonesia adalah bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, maka setiap satuan atau program pendidikan harus memenuhi atau melampaui standar yang dilakukan melalui kegiatan akreditasi terhadap kelayakan setiap satuan/program pendidikan. Ketiga, Standarisasi Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh Indonesia. SNP terdiri dari : Standar Kompetensi Lulusan  (SKL), Standar Isi (SI), Standar Proses (SP), Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (SPTK), Standar Sarana dan Prasarana (Sarpras), Standar Pengelolaan (SPL), Standar Pembiayaan (SPB) dan Standar Penilaian (SPN).

Upaya lain yang bisa dilaksanakan dalam meningkatkan mutu pendidikan oleh Guru. dengan bagaimana guru menyaipakn kompetensi baik kepribadian, keprofesian, pedagogik mapun sosialnya. Guru yang hebat akan memberikan strategi terbaiknya dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan teknik-teknik yang memberi inspirasi kepada peserta didik. Strategi dan teknik tersebut diantaranya adalah mengembangkan profil siswa dengan cara : Pertama, menyesuaikan pengajaran dengan kebutuhan individual. Bila siswa tidak belajar dari cara yang kita ajarkan, maka kita perlu megajar mereka dengan cara yang mereka pelajari. Martha Kaufeldt (Dalam Forsten, Grant and Hollas 2002,vii). Kedua, masing-masing murid meempunyai keanekaragaman tersendiri lahir dengan kecenderungan dan kemampuan yang berbeda-beda maka oleh itu kita bisa memahami mereka terlebih dahulu. Ketiga, petakan kemampuan dan kecerdasan peserta didik yang beragam, dari gaya belajar, pengetahuan awal, dan minatnya. Keempat, kenali setiap tahap perkembangannya, dan Kelima kembangkan potensi siswa dari berbagai latar belakangnya. Keenam, adakan trik bagaimana mengajar dengan menyenangkan minat peserta didik, gunakan hal aktual dan faktual, selingi humor.

Otonomi daerah merupakan hak, wewenang, kekuasaan, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri rumah tangganya, dalam hal urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat daerah itu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam sejarahnya, negara ini telah mengalami banyak sekali perombakan dalam hal pemerintahan. Begitu pun halnya dengan penggunaan asas dalam pelaksanaan otonomi daerah ini. Banyak hal yang telah pemerintah pusat coba lakukan untuk menemukan formula yang tepat dalam hal pembangunan negara dan pelaksanaan pemerintahan dalam rangka menjalankan kedaulatan rakyat. Asas Sentralisasi dan desentralisasi merupakan salah satu aspek dalam pelaksanaan otonomi daerah. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas mengenai perbedaan sentralisasi dan desentralisasi dalam otonomi daerah. Adapun Desentralisasi adalah penyerahan wewenang dari pusat kepada daerah untuk mengatur rumah tangga nya sendiri ,namun tidak untuk semua hal sentralisasi adalah penyerahan kekuasaan serta wewenang pemerintahan sepenuhnya kepada pemerintah pusat. 

Otonomi daerah dalam hal ini pengaruh otonomi Pendidikan terhaap peningkatan kualitas dn relevansi pendidikan, memberikan implikasi pada semua sektor kehidupan secara lebih luas, tidak hanya pada kewenangan sekolah untuk mengatur manajemen berbasis sekolah sendiri, lebih dari pada itu juga menyentuh aspek-aspek riil kemajuan Pendidikan di satuan pendidikan. Dengan adanya otonomi Pendidikan, berarti sekolah bebas dalam penyelenggaraan bidang pendidikan akan terbagi antara Pemerintah Pusat di satu pihak dan Pemerintah Daerah di lain pihak (Fasli Jalal; 2001:19). Pemberlakuan otonomi Pendidikan ini tentu saja memiliki makna strategis dan signifikansi bagi dunia pendidikan. Dunia pendidikan Indonesia selama ini telah berkembang menjadi perpanjangan dari sistem birokrasi sehingga kondisi ini selanjutnya berpengaruh pada kinerja akademik lembaga pendidikan, di mana kegiatan-kegiatan pendidikan dan pembelajaran sangat didominasi intervensi birokrasi pemerintah.

Di samping itu, ciri khas dari lembaga-lembaga pendidikan tidak terakomodasi sedemikian rupa, karena kepentingan pragmatis mengejar target yang dirancang pemerintah pusat. Akibatnya, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia hampir tidak menyentuh kebutuhan riil masyarakat lokal, karena mereka memang tidak dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan juga monitoring pelaksanaan pendidikan (Engkoswara, 2001:23). Penyesuaian pelaksanaan pendidikan dengan kondisi daerah bukan persoalan yang mudah, tetapi memerlukan pemikiran yang serius. Mengingat daerah di Indonesia sangat heterogen, dilihat dari letak geografis, politik, sosial, ekonomi, dan budayanya. Heteroginitas daerah ini menyebabkan perbedaan daerah untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam bidang ekonomi misalnya, kemampuan daerah untuk memberikan sumbangan kepada lembaga pendidikan sangat tergantung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) yang diterima dari pusat. Kondisi ini menjadikan perkembangan lembaga pendidikan tergantung pada “kaya dan miskinnya” pemerintah daerah. Bagi daerah-daerah yang kaya PAD-nya, bantuan penyelenggaraan pendidikan tidak mengalami masalah yang berarti, bahkan lebih banyak dari yang diperoleh sebelumnya. Tetapi, bagi daerah-daerah yang miskin PAD-nya, maka sumbangan pada lembaga pendidikan akan semakin kecil. Sumbangan yang kecil ini, menjadikan aktivitas pendidikan dan pembelajaran 40 Ris├ólah, Vol.1. No.1, Desember 2014 mengalami hambatan, karena tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Dan masih banyak lagi masalah-masalah pendidikan terkait dengan otonomi daerah. Tulisan ini ingin mencoba menelusuri salah satu masalah dalam kaitannya dengan otonomi daerah, yaitu posisi madrasah dalam kerangka ini. Di samping itu akan mengkaji pula mengenai peluang dan tantangan bagi madrasah dalam otonomi daerah

Berbagai Masalah dan isu pendidikan dan solusinya yang bisa ditempuh, bukan hanya dalam jangka waktu sementara, tetapi diharapkan pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan ini dalam jangka waktu yang panjang dan berkelanjutan. Memang bukan sebuah perkara yang mudah untuk menuntaskan masalah pendidikan yang ada di Indonesia. Untuk menyelesaikan permasalahan ini perlu adanya koordinasi antara pemerintah, masyarakat, guru maupun siswa. Dengan begitu permasalahan yang dihadapi akan dapat cepat terselesaikan, walaupun dengan cara yang bertahap. 

Berikut solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia. Pertama, menetapkan kebijakan yang bersifat efektif dan berkelanjutan. Kebijakan yang terus berubah-ubah hanya akan membuat kebingungan bagi para siswa dan guru, yang nantinya akan berakibat pada kualitas pembelajaran siswa itu sendiri. Pemerintah harus menetapkan sebuah kebijakan sistem pendidikan yang mendukung dan merangsang daya pikir serta kreativitas siswa. Pemerintah juga harus memikirkan bagaimana kebijakan mengenai sistem pendidikan ini dapat berlangsung secara berkelanjutan dan dapat menyesuaikan dengan masa yang akan mendatang. Hal ini agar kurikulum yang sudah dibuat tidak mudah untuk berubah-ubah. Kedua, perkuat sistem pendidikan karakter untuk mendukung terciptanya SDM yang berkualitas dan berdaya saing. Ketiga, memberikan dana untuk meningkatkan fasilitas pendukung Pendidikan. Sering kali dana untuk pendidikan ini dikesampingkan, dipandang sebelah mata dan bahkan sering kali dikorupsi. Padahal dana untuk bidang pendidikan ini akan sangat membantu pembangunan fasilitas yang memadai bagi para siswa. Dengan adanya fasilitas yang menunjang dan memadai maka juga akan meningkatkan kualitas pembelajaran para siswa dan secara tidak langsung juga akan memperbaiki  dan meningkatkan kualitas SDM kita. Pemberian dana untuk fasilitas ini entah itu berupa transportasi, buku-buku, meja dan kursi atau bahkan dana untuk pembangunan fasilitas berupa laboratorium dan sebagainya. 

Jika kita bercermin pada pemerintah Finlandia yang sangat memperhatikan pendidikan untuk rakyatnya, sehingga mereka tidak segan untuk mengeluarkan dana hanya untuk meningkatkan mutu pendidikan mereka. Dilansir dari Detik News, pada tahun 2019 silam, pemerintah telah menggelontorkan anggaran untuk di bidang pendidikan sebesar 492,5 Triliun Rupiah guna meningkatkan kinerja kualitas pendidikian di Indonesia, dengan rincian 163,1 T bagi pusat, 308, 4 T bagi daerah, dan 21 T bagi pembiayaan. Angka ini tumbuh sebesar 11,4 persen dibanding anggaran tahun 2018. Dengan demikian diharapkan bagi pemerintah untuk bijak dalam menggunakan anggaran tersebut, pemerintah perlu memperhatikan keperluan yang bersifat administratif. Namun tidak ketinggalan pemerintah juga harus memenuhi dan memperhatikan aspek dari kualitas materi pembelajaran.

Meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Seperti yang telah dipaparkan tadi, para tenaga pendidik yang ada di Indonesia masih sedikit yang memiliki kualifikasi yang layak. Kualitas dari tenaga pendidik ini perlu diperhatikan, hal ini karena tenaga kependidikan sangat berperan penting dalam pembentukan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Selain itu, para tenaga kependidikan harus mampu memberdaya gunakan sumber pembelajaran yang lebih beraneka ragam dan menarik bagi para siswa. Penanaman pendidikan karakter kepada siswa. Pendidikan berupa pengetahuan memang sanggatlah penting, terutama di era 4.0 sekarang ini. Namun, perlu diingat, pendidikan karakter juga tak kalah penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah ilmu tanpa di dampingi dengan akhlak yang baik, maka sama dengan sia-sia. Sekarang ini, akhlak dari para generasi sekarang seolah mengalami kemunduran, contohnya saja  banyak kasus murid terhadap gurunya yang sekarang marak terjadi. Selain itu, rendahnya karakter ini juga akan mempengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia kita, misalnya saja seperti kasus penyuapan, korupsi, dan lain-lain merupakan sebuah cerminan dari rendahnya pendidikan karakter. Hal-hal kecil seperti misalnya menyontek bisa berakibat besar ke depannya.

Pemerataan pendidikan di setiap wilayah. Hal yang sangat diperlukan lagi-lagi adalah masalah dana. Jika ingin melakukan pemerataan pendidikan secara menyeluruh, tentunya dibutuhkan biaya yang cukup besar. Hal lain yang menjadi penghalang adalah masalah keterjangkauan. Akses yang sulit dijangkau membuat pemerataan ini akan sulit terwujud. Namun, sebenarnya pemerintah sudah memiliki cara untuk mengupayakan pemerataan pendidikan. Dilansir dari Detik News, pada tahun 2017, Kemdikbud telah memberlakukan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan (Permendikbud) Nomor 17 Tahun 2017. Sistem zonasi ini, diharapkan akan mengurangi ekslusivitas, rivalitas, serta diskriminasi di sekolah-sekolah negeri yang merupakan barang publik. Hal ini akan membantu pemerintah dalam memberikan bantuan/afirmasi yang lebih tepat sasaran, baik yang berupa sarana dan prasarana sekolah maupun peningkatan kapasitas tenaga pendidik dan kependidikan. Untuk pemberlakuan sistem zonasi ini haruslah juga disertai dengan peningkatan kualitas fasilitas yang ada di sekolah. Peningkatan ini bertujuan untuk kenyamanan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Selain itu peningkatan fasilitas juga berguna untuk menunjang tingkat kemampuan siswa dalam menyerap pembelajaran yang ada di sekolah. Selain cara yang telah diuraikan tadi, pemerintah juga harus menyediakan atau memudahkan akses bagi daerah yang terpencil agar dapat lebih mudah menjangkau fasilitas pendidikan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan membangun jalan, jembatan, transportasi, dan sebagainya.

SAMBUTAN DIES NATALIS KE-60 DAN LUSTRUM KE-12 SMK MIKAEL SOLO “BAKTI MIKAEL UNTUK VOKASI INDONESIA”

  SAMBUTAN DIES NATALIS KE-60 DAN LUSTRUM KE-12 SMK MIKAEL SOLO “BAKTI MIKAEL UNTUK VOKASI INDONESIA”     Assalamu ' alaik...