Tuesday, October 27, 2020

Pemuda, Agama dan Teknologi, Sebuah Renungan Hari Sumpah Pemuda 2020


Pemuda Bersatu, Bangkit Indonesia. Bagaimana relevansi dan memaknai Sumpah Pemuda, era new? Hari ini tanggal 28 Oktober 2020, diperingati sebagai Sumpah Pemuda yang ke-92.  Pernyataan para pemuda dalam kongres II tanggal 28 Oktober 1928 saat itu, dipertanyakan relevansinya sekarang, bagaimana memaknainya. Hanya sekedar pernyataan biasa atau benar "Sumpah" dalam arti sesungguhnya. Karena disebutkan dalam banyak dokumen tidak ada kata "Sumpah Pemuda" yang ada hanya "Poetoesan Coengres". namun sampai sekarnag orang menyebutkan sebagai Sumpah Pemuda. Disini ada dua kata, Sumpah dan Pemuda.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "Sumpah" adalah kata yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dan sebagainya). Pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. Sebagai janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu). Ini mempunyai konsekwensi logis dan berdampak luar biasa.

Selain pernyataan komitmen, Sumpah Pemuda yang kita ketahui dari guru sejarah sebagai "tonggak sejarah dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia". Disinilah dimulai perjuangan untuk bebas dari penjajah, sekaligus awal pergerakan organsiasi pemuda, setelah sebelumnya ada Boedi Oetomo tahun 1908.  

Pemuda, mengandung arti usia muda, atau semangat dan jiwa muda. Dalam tataran usia, saat ini terjadi pergeseran penggolongan usia. Sebagian melihat usia muda kurang dari 50 tahun. Namun Organisasi Kesehatan Dunia WHO, menetapkan sebuah kriteria baru yang membagi kehidupan manusia ke dalam 5 kelompok usia.

whatsapp-image-2020-10-28-at-08-01-04-5f98ca28d541df72584ebdb3.jpeg
Pertama usia, 0 sampai 17 tahun, kategori anak-anak di bawah umur. Kedua, usia 18  sampai 65 tahun, kategori pemuda. Ketiga, usia 66 sampai 79 tahun, kategori setengah baya. Keempat, usia 80  sampai 99 tahun, kategori orang tua. Kelima, usia 100 tahun ke atas, kategori orang tua berusia Panjang Jadi, jangan lagi menggolongkan seseorang yang berusia 70 tahun ke dalam orang tua, karena standar baru dunia kini usia 65 tahun, masih masuk kategori usia muda atau "pemuda".

Kembali kepada Sumpah Pemuda. Yang berisi : 

Pertama, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Banyak kalangan menilai perlu reorientasi makna Sumpah Pemuda dalam era new. Apakah masih relevan atau tidak. Karena sejak pertama kali dibacakan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 atau tepatnya 92 tahun lalu. Maknanya perlu digeser dalam era kekinian yang sesuai perkembangan zaman.

Dengan semangat "Nasionalisme" Sumpah Pemuda, para pemuda pada saat itu disebut "Radikal" oleh penjajah. Namun saat itu belum dikenal istilah Radikal. Dikarenakan Oleh penjajah bisa mengancam kelangsungan kekuasaan penjajahannya pada saat itu.

Yang perlu direorientasi makna Sumpah Pemuda sebenarnya pada perjuangan para pejuang pemuda saat itu. Sebagian pejuang terdahulu, hanya sekedar berjuang melawan penjajah, karena tidak ingin terjajah, dan wilayah Indonesia jatuh ke tangan penjajah.

Namun sebagian pemuda dan tokoh muslim sebaliknya. Selain mempertahankan wilayahnya, ada tokoh seperti Pangeran Diponegoro, M. Natsir, Agus Salim, Bagus Hadikusumio, Kasman Singodimedjo menganggap bahwa kebenaran lebih mereka cintai dalam membela bangsa dengan menegakkan nilai-nilai Islam.

Mereka adalah pejuang yang ikhlas dalam membelanya negaranya sekaligus mempertahankan nilai dan semangat keislamannya. Jadi tak sekedar semangat nasionalisme daerah, wilayah, kesukuan saja namun ada semangat islam inilah yang jauh "menggelora" sehingga bisa terbebas dari penjajah. Mereka hakekatnya tahu apa itu perjuangan, yaitu dalam rangka berjuang memperjuangakan aqidah Islamiyah. Ini yang perlu dipahami, dicermati pemuda sekarang.

whatsapp-image-2020-10-22-at-19-57-09-5f98ca358ede484b006c0ee3.jpeg
whatsapp-image-2020-10-22-at-19-57-09-5f98ca358ede484b006c0ee3.jpeg
Kenyataan di atas perlu ada perimbangan sejarah, disampaikan sesuai proporsinya kepada generasi muda penerus, pemuda harapan bangsa. Tidak cukup hanya mempertahankan, berjuang untuk negaranya. Namun tak ketinggalan dan jauh lebih mulia adalah berjuang menegakkan kebenaran agama dengan menjaga akidah-Nya. Karena ini sesungguhnya ikatan mulia yang tak lekang oleh waktu dan kepentingan sesaat.

Tak dipungkiri saat itu pemuda memiliki andil yang sangat besar dalam sejarah kebangkitan.  Bahkan bisa dikatakan bahwa maju mundurnya sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas para pemudanya. Kenyataan pemudalah banyak mewarnai dan merubah dunia.

Pemuda hari ini adalah para pemain utama di masa mendatang. Merekalah yang sepuluh, dua puluh tahun lagi akan mengganti estafet kepememimpin. Pemuda sebagai pondasi utama negara yang menopang masa depan bangsa. Jika pemudanya cerdas dan berakhlak mulia maka kemajuan bangsa itu akan maju dan sejahtera. Namun sebaliknya, jika pemudanya bodoh, pemalas dan perilaku buruk lainnya, mudah "terkontaminasi" budaya hedonis, menyebabkan lupa perjuangan, bisa dipastikan masa depan bangsa tinggal menunggu kehancurannya.

Dalam konteks kekinian, dimana internet menjadi "kebutuhan utama" tak ada jarak dan sekat antarnegara, ahlak mulia generasi muda menjadi utama sebagai benteng moral penjaga bangsa.

Sumpah Pemuda, yang selalu kita peringati setiap tanggal 28 Oktober, hendaknya dipahami  pentingnya peran pemuda, bahwa ternyata ada "Sumpah" yang jauh lebih mulia, tidak hanya terbatas pada kesetiaan kepada suku, wilayah, agama, ras dan bangsa. Namun bagaimana sumpah setia kepada sebuah kebenaran yang serba Maha. Sumpah kesetiaan untuk menjaga agama-Nya. 

Melihat generasi terdahulu, kita masih sangat jauh. Kita perlu banyak belajar pada mereka,  menjadi ibrah bahwa peran pemuda sangatlah penting. Bahkan sampai Allah akan menanyakan khusus dipakai untuk apa usia muda anda? Dan ini tentunya akan kita jawab suatu saat nanti.

Ketika Soekarno berkata "berikan kepadaku sepuluh orang pemuda, aku akan goncangkan dunia", tentunya beberapa abad lalu, generasi muda sudah menggoncangkan dunia. 

Saat ini terjadi kemunduran genersi (usia) pada pemuda-pemuda Islam. Dahulu para pemimpin dunia adalah anak-anak muda usia. Lihat saja pemuda hasil gemblengean Rasullullah Muhammad SAW,  seperti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz, dll. Bahkan Ibnu Hajar Al Asqalani, ahli-ahli hadits dan ilmu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sebagai ahli politik, Imam Hasan Al Banna Rahimahullah adalah sederet tokoh-tokoh yang sudah berkibar diusia muda, bahkan sangat muda. Tentunya kita merasa sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan mereka, generasi salafus shalih.

Kelak akan muncul Alfatih baru sebagai pembebas negeri dari penjajahan dan hegemoni kapitalis barat kelak. Setelah sebelumnya ada Alfatih yang menaklukan Konstantinopel.

Rasul bersabda : "bahwa pemuda yang taat beribadah kepada Allah, salah satu golongan yang dinaungi dihari kiamat". Inilah hendaknya yang menjadi acauan sebagai "Sumpah Pemuda" sekarang. Sumpah yang melebihi "Sumpah Pemuda" yang lalu. "Sumpah" kepada kalimat tauhid yang selalu berada diatas segalanya. Itulah sesungguhnya yang dapat mengembalikan kejayaan kita kepada generasi emas Islam. Generasi pemuda pengukir tinta sejarah. Yang sudah diakui dunia. 

Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. 

Dalam kontek Pendidikan Vokasi, siswa SMK sebagai bagian yang akan menuju sebagai pemuda, seringkali rawan apabila salah bimbingan. apabila tidak dibekali Minsedt perilaku yang kuat dan amanah. Ini yang dalam bahasa agama pemuda dibekali dengan ilmu dan akidah yang kuat. Keliru dalam pencarian jati diri yang terjadi pribadi pemuda yang miskin ide, kosong akidah, pada akhirnya lemah dan buta terhadap situasi dan kondisi yang membutuhkan pertimbangan dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Namun dibutuhkan kearifan manusia dalam penentu pengguna teknologi modern. 

"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk." (Al-Kahfi: 13). 

Beranjak dari sini, sesungguhnya banyak tanggung jawab dan kewajiban seorang pemuda, dan semakin berat amanat yang terpikul di pundak kalian hai para pemuda. Kalian harus berpikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah kalian mampu menunaikan hak-hak umat ini dengan sempurna.

Mari kita resapi, dalami setiap peringatan "Sumpah Pemuda" bukan sekedar nilai-nilainya sakralnya saja. Mengingat para pendahulu saja. Namun selalu mengingatkan pemuda untuk meningkatkan kemampuannya dan kompetensinya hadapi perkembangan kemajuan teknologi yang semakin cepat. Kuasai banyak hal, baik hard skill, maupun soft skillnya, kemampuan pembelajaran abad 21 dan terpenting adalah etika, karakter yang dalam bahasa agama disebut ahlak. Wallahu alam bi ashowab.. 



@mitraigvi
@mitrasdudi
@kamivokasi
@direktoratsmk
@diktivokasi
@kursuskita
#MitrasIGVI
#MitrasDUDI
#MitraVokasi
#VokasiKuat
#Menguatkan Indonesia

Saturday, October 24, 2020

Dirjen Vokasi Dukung IGVIM "Mereformasi" Mindset Guru SMK



Pengurus Pusat Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (PP IGVIM) melaksanakan kunjungan persahabatan dan silaturahmi ke Direktur Jenderal (Dirjen Vokasi). Sabtu 24 Oktober 2020, Hotel Gumaya Semarang.


Kunjungan ini diterima langsung Dirjen Vokasi, Wikan Sakarinto. Dikemas dalam diskusi santai, sederhana sambil ngopi bareng di lobi hotel. Diskusi berlangsung gayeng dan menyenangkan. Ketua Umum IGVIM dan Dirjen vokasi berdiskusi mengenai peningkatan kompetensi mutu dan lulusan SMK. Sebagai pertemuan awal, selanjutnya akan ditindaklanjuti dalam pembahasan program kerja kedua pihak. Kedepan IGVIM akan diundang dalam pembahasan program di Dirjen Vokasi. Kedua belah pihak berjanji dan komitmen saling membutuhkan dukungan terkait.

Sebagai penasihat IGVIM, Dirjen vokasi mengapresiasi baik kelahiran IGVIM. Menyambut dengan tangan terbuka kunjungan IGVIM dengan senantiasa memberi dukungan dan arahan kepada IGVIM. Terutama dalam ikut "mereformasi" maindset dan perilaku guru SMK. Karena ini yang pertama dan utama akan dilakukan bersama.

Hadir dalam acara silaturahmi IGVIM dengan Dirjen Vokasi, Wikan Sakarinto, Mampuono, Didik Widiyono, selaku pengawas IGVIM, Edy Siswanto Ketum IGVIM, Hernowo Subiantoro Sekjen IGVIM, Didik Sudjadi, Ketua harian, Akhamad Rofi  Muhsin, Sekretaris Sekjen, pengurus Aghi Hisnawan,  dan Yosef dari Universitas STEKOM Semarang.

dokpri
dokpri
Dalam sambutannya Edy Siswanto selaku Ketua Umum IGVIM mengatakan, perlu ada sinergi kedua belah pihak bersama memajukan pendidikan vokasi. Karena kalau pemerintah saja tidak akan mampu melakukannya tanpa bantuan semua pihak termasuk organisasi profesi guru dibidang vokasi seperti IGVIM. IGVIM keberadaaanya khusus untuk mengurusi masalah pendidikan dibidang vokasi.

Maksud dari pertemuan ini adalah pertama, mempererat jalinan silaturhami, sharing berbagai pengetahuan dan menyatukan persepsi terkait pendidikan vokasi.

Kedua, sinergi dan kolaborasi kedua belah pihak dalam mengimplementasikan program-program keduanya. Bagaimana bisa kerjasama dalam segala bidang memajukan pendidikan vokasi.

Ketiga, IGVIM ikut hadir dalam menjembatani industri dan SMK terlibat dalam penyusunan kurikulum industri dan pengajarannya. 

Keempat, mengundang  kepada Dirjen vokasi sebagai keynote speakaers dan sekaligus menjadi narasumber utama dalam peringatan Hari Guru Nasional (HGN tahun 2020), sekaligus launching IGVIM 

dokpri
dokpri
Dirjen Wikan merasa senang dalam menyambut dengan baik kunjungan IGVIM, kedepan tantangan semakin berat jika tidak dilakukan bersama. Guru bukan lagi objek namun subjek dan pelaku perubahan mindset tersebut. Survei McKinsey Indonesia, menyebut 23 juta pekerjaan akan hilang tergantikan oleh otomatisasi atau mesin. Selanjutnya akan muncul 27 juta hingga 36 juta lapangan pekerjaan baru bagi mereka yang memiliki keterampilan baru.

Disini menjadi tantangan SMK jika tidak dirubah mindsetnya dari sekarang. Percuma saja jika ada bantuan namun tidak bisa mengembangakan bantuan tersebut. Hanya tinggal gedung dan peralatan saja. Tanpa ada perkembangan yang berarti. Pihaknya tidak senang jika hanya prosedur administrasi tanpa ada peningkatan output yang menggembirakan.

Dirjen vokasi sudah menyiapkan setidaknya lima jurus untuk menyambut proses otomatisasi itu. Pertama, mendorong kemajuan institusi pendidikan vokasi melalui Strategi Link and Match (Vokasi dengan Industri & Dunia Kerja). Kedua, Kurikulum disusun bersama berbasis Industri, banyak expert industri wajib dihadirkan mengajar di SMK. Ketiga, ada sertifikasi kompetensi bersama. Keempat, program magang siswa minimal satu semester. Kelima, ada komitmen bersama dalam penyerapan lulusan SMK dari industri. Ini membutuhkan benar-benar SMK bisa apa dalam memenuhi kebutuhan dunia industri. Istilahnya industri butuh pecel ya siapkan pecel yang sesuai kebutuhan indusri. 

Namun disebutkan Wikan, lebih penting adalah merubah mindset dan perilaku besar pola pikir guru dan kepala sekolah di SMK. Ini berat dan harus komitmen dikerjakan bersama. Akan ada khusus pelatihan pengembangan pola pikir kepala SMK dan dekan vokasi di perguruan tinggi terlebih dahulu. Mindsetnya yang perlu dirubah. "Tantangan terbesar adalah merubah mindset pada guru secara massive, agar mampu mengembangkan link and match menjadi implementasi kurikulum baru," Pasalnya, pola pikir yang masih terjebak zona nyaman tidak akan menghasilkan terobosan pendidikan yang sejalan dengan industri.

dokpri
dokpri
Lebih lanjut Dirjen Wikan mengatakan, melalui kurikulum baru hasil kerjasama dengan industri, pendidikan vokasi akan lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan lapangan pekerjaan seiring digitalisasi.

"Kurikulum baru ini akan lebih menyeimbangkan hard dan soft skill, tidak lagi terlalu fokus pada hard skills. Soft skills dan pembentukan karakter menjadi fokus dalam kurikulum dan proses pembelajaran," jelasnya.

"Kalau dana pengembangan vokasi jatuh ke tangan SDM vokasi yang berkarakter zona nyaman, rutinas begitu-begitu saja, maka maksimal hanya akan menghasilkan gedung dan alat laboratorium baru. Namun lulusannya tidak matching dengan kebutuhan industri dan dunia kerja," katanya.

Tak terasa saking asyiknya, diskusi sampai pukul 21.30, kami berasa berterima kasih dalam sambutan hangat dari Dirjen vokasi, yang sangat mendukung kegiatan IGVIM. Mudah-mudahan apa yang disampaikan disepakti bersama dapat terimplementasikan demi kemajuan bersama pendidikan vokasi.  Acara dilanjut dengan foto-foto bersama.


dokpri
dokpri
@mitraigvi
@mitrasdudi
@kamivokasi
@direktoratsmk
@diktivokasi
@kursuskita
#MitrasIGVI
#MitrasDUDI
#MitraVokasi
#VokasiKuat
#Menguatkan Indonesia

Profil Perkumpulan Pendidik Vokasi Indonesia-Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (IGVIM)

 



Profil Perkumpulan Pendidik Vokasi Indonesia - Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (IGVIM)

Bismillah, kelahiran Perkumpulan Pendidik Vokasi Indonesia yang selanjutnya disebut dengan nama Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (IGVIM), dilatarbelakangi rendahnya mutu lulusan SMK, dan kurangnya kompetensi dan profesionalisme guru SMK, minim dan belum meratanya peralatan praktik, laborotarium bengkel di SMK terutama luar jawa, dan sederet permalasahan lain. IGVIM juga ikut mengakselerasi program pemerintah lewat Dirjen Vokasi. Mewujudkan revitalisasi SMK seperti dalam Inpres No 9 Tahun 2016. 

IGVIM keberadaaanya khusus untuk mengurusi masalah pendidikan dibidang vokasi.

IGVIM dalam Bahasa Indonesia, atau dalam Bahasa Inggris Avanced Indonesian Vocational Teachers Association (AIVTA) merupakan suatu organisasi profesi guru yang bersifat sosial. IGVIM memupunyai visi besar, menjadi perkumpulan organisasi profesi guru kejuruan (vokasi) yang independen, mandiri, profesional, inklusif, berwawasan global,  mencerdaskan, berkarakter luhur kebangsaan dalam iman dan taqwa.

Adapun misi yang diemban IGVIM adalah :

1. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan berkolaborasi dengan Dunia Usaha dan dunia Industri.

2. Menjalin kerjasama dengan semua pihak di dalam dan luar negeri.

3. Menjembatani komunikasi sesama guru untuk berbagi pengalaman dalam melaksanakan pembelajaran dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pendidikan.

4. Mendukung segala upaya dalam penjaminan, pengontrolan, dan perbaikan mutu guru.

5. Membangun budaya literasi dasar guna menumbuhkembangkan minat baca-tulis, sains, matematika, TIK, finansial, berbudaya dan sosial kemasyarakatan di kalangan guru.

6. Memfasilitasi guru untuk mengembangkan keterampilan pembelajaran abad 21 yang mengedepankan semangat pendidikan inklusif dan holistik.

7. Melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan penguasaan teknologi informasi untuk  mendukung  profesionalitas guru.

8. Mengupayakan peningkatan kesejahteraan guru melalui jalur legal konstitusional.

9. Memfasilitasi pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan pembuatan karya inovatif guru dan teknologi tepat guna.

10. Turut menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat bersama pemerintah dengan terus memunculkan gerakan yang mendukung tercapainya pendidikan Indonesia yang maju dan independen.

Tujuan IGVIM yang bisa dicapai  adalah sebagai organisasi profesi guru bidang vokasi, dengan tujuan dibidang pendidikan, sosial dan kemasyarakatan, kesejahteraan, pengawasan dan perlindungan anggota organisasi. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan melakukan kegiatan pelayanan pendidikan, penelitian yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi, perlindungan anggota (advokasi) dan kejahteraan anggota.

Tujuan ril yang bisa dicapai dalam perjuangan IGVIM adalah :

1. Sebagai tempat sharing, berbagi ilmu pengetahuan, seni, peningkatan kompetensi, dan skill.

2. Wahana urun rembug terhadap kemajuan dunia pendidikan khususnya pendidikan vokasi.

3. Berbagi pengalaman, metode dalam best practice peningkatan mutu pendidikan vokasi.

4. Sebagai jembatan dan kemitraan kerjasama SMK dengan DU/DI.

5. Forum silaturahmi, berbagi informasi dan menjalin komunikasi, diskusi dan deseminasi hasil-hasil penelitian, PTK, Pengalaman Mengajar, Pembuatan Bahan Ajar, Pengembangan bahan ajar, media pembelajaran, Manajemen Pendidikan dan hal-hal yang terkait dengan pendidikan vokasi.

Agenda IGVIM dalam Waktu Dekat di Tahun 2020 :

1. Baju seragam IGVIM sudah jadi sebelum tgl 20 Nopember 2020

2. Pembukaan rekening IGVIM setelah akte notaris jadi

3. Agendakan koordinasi penyusunan program kerja Pengurus Pusat (PP)

4. Segera buat jadwal bintek nasional online bisa joint dengan institusi maupun DUDI, sudah dimulai dari sekarang

5. Pastikan masing-masing nama yang sudah tercantum dalam pengurus mulai action mempromosikan IGVIM dalam segala bentuk baik manual maupun online.

6. Intensifkan main di medsos untuk branding, dengan membuat segala kanal medsos yang dibutuhkan.

7. Silaturahim online Bareng IGVIM dan Dirjen Vokasi

8. Seminar Nasional Online dalam HGN 2020, dengan Narasumber utama Dirjen Vokasi, diperkirakan tgl 20 Nop 2020, sekaligus launching/pelantikan PP IGVIM (jika Akte Notaris sudah jadi), jika belum bisa launching saja

9. Pastikan semua komponen pengurus sudah bergerak mempromosikan IGVIM, sudah dimulai dari sekarang, termasuk jika ada acara untuk bisa menautkan logo IGVIM

10. Responsif terhadap segala kejadian, isu, kegiatan disekitar dalam scup nasional maupun internasional dengan ikut memberikan ucapan dalam bentuk flyer online logo dan Ketum IGVIM

11.   Kolaborasi dan Sinergi, update info dan rujukan narasumber segala isue pendidikan terutama bidang vokasi, baik dengan institusi pemerintah maupun DUDI.

12. Pusat studi, kuasai bahan dan data vokasi untuk jadi mitra kritis, dan urun rembug kemajuan pendidikan vokasi indonesia.

PP IGVIM membutuhkan figur untuk mengisi di pos kepengurusan dengan syarat utama : Dosen Vokasi, Guru SMK semua jurusan, formal non formal, peduli kemajuan pendidikan dan Vokasi, Menguasai literasi dan IT, Organisatoris, komunikatif, bisa bekerja dalam tim, dan tentu siap  berjuang dan berkorban tenaga, fikiran dan waktu untuk memajukan pendidikan vokasi Indonesia. 

Mohon masukannya, untuk segera membuat program kerja kepengurusan bersama dan meluncur, termasuk bermain di medsos dibutuhkan sumbangan sodakah amal jariyah yang ahli IT. Karena organisasi milenial modern tak bisa lepas dari kemasan branding IT.

Bapak ibu pasti bisa.. bravo IGVIM..Joss..

@mitraigvim

@mitrasdudi

@kamivokasi

@direktoratsmk

@diktivokasi

@kursuskita

#MitrasIGVIM

#MitrasDUDI

#MitraVokasi

#VokasiKuatMenguatkanIndonesia

 

Kendal, Oktober 2020.


Edy Siswanto

Ketum PP IGVIM





Sunday, October 18, 2020

Tantangan Pendidikan Vokasi Indonesia

 

                                                                                                                                               

Kondisi persaingan dan perkembangan yang begitu cepat, membutuhkan kontribusi pendidikan dalam menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing. Pendidikan dijadikan sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh masyarakat. Salah satu indikator majunya suatu bangsa ditentukan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang hasilnya didapat dari proses pendidikan vokasi yang bermutu.

Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Untuk Peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia. Dalam Inpres menjadi momentum legalitas yang strategis untuk pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia. Pendidikan vokasi menjadi utama dan pertama, solusi penciptaan sumber daya manusia yang berkompeten, berdaya saing, dan siap bekerja profesional.

Presiden Jokowi pada Rapat Kabinet Paripurna pada awal 2017, memberikan arahan untuk melakukan revitalisasi pendidikan vokasi dengan membuka akses yang luas untuk masyarakat mendapatkan akses keterampilan dan mengubah kurikulum yang ada, menjadi kurikulum yang berbasis industri serta menyiapkan sumber daya manusia yang profesional dalam bidangnya. Harapannya, semua lembaga yang menyelenggarakan Pendidikan Vokasi mendapatkan prioritas dan dukungan untuk pengembangan dan peningkatan kualitasnya, sehingga menghasilkan lulusan yang bermutu.

Terbentuknya Ikatan Guru Vokasi (IGVI) sebagai titik awal, sekaligus titik tolak dalam mempersiapkan tantangan yang akan dihadapi lima tahun ke depan. Dimana tantangannya jauh berbeda dengan sekarang. Harapannya IGVI menjadi flag carrier pendidikan vokasional di Indonesia dan menjadi pionir yang mengedepankan sinergitas kemampuan lulusan SMK  dengan industri dengan tetap mengedepankan profesionalisme, intelektual dan pembangunan karakter bangsa. 

Dengan Visi IGVI menjadi organisasi guru Pendidikan vokasi yang kuat, kritis, sekaligus sebagai mitra pemerintah terutama bidang Pendidikan vokasi, menjadikan lulusannya mampu bersaing dan diterima di industry, dunia usaha dan kerja (IDUKA). Pemerintah dengan terbetuknya Dirjen Vokasi memberikan dorongan dan apresaisi yang tinggi. Memberikan ruang untuk peningkatan proses dan pengembangan SDM vokasi dengan mengupgrade beberapa pendidikan vokasi menjadi lebih vital sesuai kebutuhan zaman. Peluang strategis tersebut harus dijadikan momentum pengembangan pendidikan vokasi. Dalam rangka peningkatan angka partisipasi kasar pendidikan yang saat ini berkisar sekitar 36 persen lebih (sumber: slide belmawa.ristekdikti), pendidikan vokasi menjadi terobosan untuk mendorong pemenuhan rasio kebutuhan pendidikan.

Setidaknya enam isue penting pendidikan vokasi (SMK) masih relevan dibahas.

Pertama, Peningkatan Kompetensi Guru. Tak ada lagi SMK penyumbang sekaligus pencetak pengangguran. Pendidikan vokasi yang ada harus diperluas aksesnya, diberikan kesempatan yang besar kepada seluruh warga negara untuk mendapatkan akses keterampilan melalui pendidikan vokasi. SDM di Indonesia harus dibentuk selain hard skill juga karakter (soft skill) yang baik, ucapan yang santun, perilaku yang mencerminkan budaya timur, agamis dan profesional. ini yang dirasa masih kering didunia vokasi (baca : SMK). Perilaku berbasis keagamaan menjadi landasan untuk menciptakan suasana yang santun, lembut, dan bermanfaat untuk semua. Sehingga tercipta budaya industri di SMK yang ujungnya siap memenuhi pasar kerja di IDUKA. SDM Indonesia harus memiliki kompetensi yang memberikan solusi dan peningkatan produktivitas. Secara terbuka akan terjadi persaingan yang ketat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan kompetetif. Hal itu menjadi tantangan SMK kedepan.

Bangsa yang kuat maju, modern adalah yang kuat vokasinya. tak salah slogan vokasi kuat, menguatkan Indonesia. Kebutuhan akan kompetensi terapan yang langsung dapat memenuhi kebutuhan industri dilahirkan oleh lulusan pendidikan vokasi termasuk SMK. Pendidikan vokasi dalam prosesnya menekankan pada pengembangan praktek atau terapan dibanding yang sifatnya teoritis. Peserta didik diberikan kemampuan yang dapat memberikan solusi dan pengembangan kreativitas berbasis potensi individu.

Kedua, Upgrade sarana prasarana penunjang praktik bengkel dan laboratorium. Pelaksanaan pendidikan vokasi di Indonesia dilakukan oleh SMK, Politeknik, dan Universitas yang memiliki program pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi dapat dilakukan dari jenjang D-1 sampai Doktor Terapan. Melihat strategisnya pendidikan vokasi maka sosialisasi dan desiminasi informasi serta pengembangan pendidikan vokasi sangat penting dan diperlukan terus menerus. Hingga persepsi vokasi pendidikan kelas dua tak ada lagi. Karenanya kebutuhan skill praktik siswa hendaknya memenuhi syarat minimal mendekati atau tidak asing lagi jika dihadapkan dengan di IDUKA.  

Ketiga, Kurikulum Implementatif dan aplikatif dengann IDUKA, Untuk itu kurikulum aplikatif implementatif di SMK dikembangkan dan dirancang dengan duduk bersama. Yang akan mengahasilkan "Pernikahan Masal" terpenting bukan hitam diatas putihnya melainkan tindakan follow upnya setelah menikah masal itu. SMK didorong melalakukan melakukan terobosan yang tepat guna dan skill based competency. Harapan “membangun guru pendidikan vokasi menjadi lebih profesional untuk menghasilkan lulusan yang kompeten di bidangnya”, menjadikan semangat untuk seluruh guru vokasi membangun tata kelola yang baik, transparan, akuntabel serta memunculkan kemandirian yang akhirnya bisa meningkatkan kualitas dalam setiap produk yang dihasilkan dan bisa memberikan sumbangsih untuk bangsa dan negara.

Keempat, Jalinan kerjasama dan kemitraan dengan industri sangat penting. Disisi lain, industri memerlukan SDM siap pakai, yang dapat mengisi dan mengoperasikan program dan mesin-mesin di perusahaan. Lulusan SMK dianggap lebih "siap"Proses adaptasi (probation period) menjadi lebih singkat, karena lulusan pendidikan vokasi dapat langsung memahami dan melakukan pekerjaan sesuai kebutuhan industri. Industri memerlukan level kompetensi dari mulai teknis dan manajerial.

Banyak perusahaan yang mencari SDM yang memiliki kompetensi terapan, sehingga memudahkan perusahaan dalam mempercepat produksinya. Secara nyata lulusan SMK sudah “Bisa” bekerja dengan baik, apalagi untuk jenjang vokasi yang lebih tinggi.

Pendidikan Vokasi berkolerasi dengan pengembangan SDM. SDM yang berdaya saing harus mampu unggul dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada. Pendidikan vokasi mengajarkan proses how to know and how to do, hal ini yang menjadikan peningkatan utama kualitas SDM di Indonesia.

Kompetensi terapan memberikan bekal terhadap pengembangan sumber daya manusia yang unggul. Kompetensi terapan menjawab pertanyaan why dalam operasional yang dilakukan. Oleh karena itu, perlu ada grand desain pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia agar memberikan penguatan terhadap SDM.

Kelima, Uji Kompetensi siswa lewat LSP-P1, sebagai tolok ukur industri. Sebagai Lulusan Pendidikan Vokasi dengan pendekatan terapan dan berbasis kebutuhan industri. Dilakukan uji kompetensi sesuai dengan skema SKKNI/KKNI yang telah dilisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui Lembaga Sertifikasi Profesi P-1 pada lembaga pendidikan.

Keenam, Magang Guru di IDUKA. minimnaya guru dalam meningkatkan kompetensinya, tak cukup dengan diklat dan bintek satu dua hari, namun diperlukan guru mengalami langsung apa yang terjadi di IDUKA yang dinamis dan berubah sangat cepat. Merasakan bagaimana proses yang terjadi. 

Lulusan yang bermutu terwujud apabila guru, sekolah dan proses pendidikan vokasi dilakukan secara bermutu pula. Dari mulai input penerimaan siswa baru, proses pada pembelajaran, magang, sampai mutu output lulusannya. Kondisi demikian memberikan kesejajaran antara pendidikan vokasi dengan pendidikan akademik, sehingga masyarakat dan IDUKA tak lagi memandang sebelah mata pendidikan vokasi. AKhirnya mari kita bekerja keras memajukan pendidikan vokasi Indonesia, vokasi kuat menguatkan dan memajukan Indonesia. Wallahu a'lam..bi ashowab..

Edy Siswanto

Ketua Umum PP Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (PP IGVIM)




Sang Raja Hadapi "Badai Topan"

 

dokpri

Seorang pengikut setia kerajaan yang merasa memiliki, dan bekerja menjadi cantrik kerajaan sejak kecil : "Hendaknya kerajaan ini bersatu untuk menghadapi musuh yang akan menyerang kita. "Kenapa kanda apakah ada musuh yang mau menyerang? sahut kawan pengikut setia. Kita harus setia kepada kerajaan karena hidup kita ini dari kerajaan. 

Bukankah perang dalam kerajaan hal biasa kanda "Harus ada perdebatan. Perdebatan tidak selalu jelek dan negatif, bahkan bisa menjadi vitamin segar yang menyehatakan. Kalau tidak ada perdebatan artinya mengekor dan membebek..dan "meong"..Perdebatan adalah tradisi leluhur para pendiri kerajaan kita kanda. Kalau tidak ada perdebatan tidak lahir Kerajaan diatas angin ini kanda". Sambil mencucu pengikut setia yakin menjelaskan.

Terdengar cerita "Negeri diatas Angin" akan ada suksesi kepemimpinan Sang Raja. Beberapa nama calon sudah mulai bermunculan. Bahkan mulai terasa dua bulan ini, geliat dan dinamika mulai "menghangat". Ada calon yang sudah mendapat dukungan resmi dari beberapa wilayah bagian kerajaan. Ada calon yang dijagokan Sang Raja. Karena kabarnya Raja akan legowo mewariskan tahta kepada Sang Pangeran mahkota penerusnya yang sudah digadang-gadang. Sang Raja akan lengser keprabon mandeg pandito.

Namun dibalik geliat menghangatnya calon putra mahkota yang bermunculan, berhembus kabar "isu" yang menerpa sang raja. Isu tersebut bergulir dan belum ada titik temu. Menjadi bola liar digrup-grup para punggawa kerajaan dari pusat maupun daerah. Sampai sekarang belum selesai. Satu sisi menghendaki ada pertanggungjawaban jelas sepak terjangnya selama ini, sisi lain itu akan Sang Raja siap mempertanggungjawabkan menunggu saat musyawarah kerajaan dilaksanakan.

Perdebatan serius antara keluarga besar kerajaan berlangsung. Raja menganggap reshuffle adalah hak prerogratif, karena tidak diatur dalam konstitusi kerajaan. Sang Raja bersikukuh mempertahankan keputusannya seperti dalam pepatah "sekali layar terkembang pantang surut kebelakangi". Yang berati, lebih baik mati tenggelam daripada balik sebelum ujung. Ujar sang Raja. 

"Ayo punggawa tetap semangat bekerja" ujar Sang Raja" Daripada teman-teman berdebat disini, tunjukan kinerjamu, pengabdian terbaikmu kepada kerajaan. Silahkan tempuh jalur konstitusi, karena tak mudah menjadi Sang Raja. Ada forum yang bernama Musyawarah Luar Biasa (MLB), kerajaan itu jelas diatur dalam konstitusi kerajaan. Dua bulan mungkin masih cukup waktu untuk memberhentikan Sang Raja. Tapi kalau dirasa tak cukup, lebih baik tunggu Musyawarah kerajaan  yang sebenarnya. Sahut Sang Raja.

Atau gini saja, apa sih sebenarnya yang diinginkan dibalik ini semua? Apakah membatalkan reshuffle punggawa atau tidak membatalkan reshuffle berpengaruh pada apa yang diinginkan itu?"

Demikian pembelaan Sang Raja atas serangan terhadapnya. Sang Raja beranggapan tidak ada konstitusi yang dilanggar atas tindakannya selama ini yang sudah mereshufle sampai lima kali masa kepengurusannya. Apakah sewenang-wenang atau tidak, agar dikembalikan kepada konstitusi kerajaan. Jelasnya.

Karena memang tidak ada larangan dan tidak diatur dalam konstitusi organisasi. Namun hemat pengikut setia, secara etika bisa menimbulkan polemik dan perpecahan seperti dikhawatirkan punggawa kerajaan. Semakin tinggi dan besar kerajaan maka semakin tinggi pula angin yang menerpanya. Tak heran konflik, prasangka dan persepsi beda, hal biasa dalam kerajaan. Namun jika salah langkah, tidak dikemas dan dimanaj dengan cantik bisa muncul perpecahan. Dan itu yang diwanti-wanti leluhur kerajaan.

Disatu sisi Majelis Pertimbangan Kerajaan (MPK) sudah menerima laporan punggawa kerajaan yang merasa keberatan dipecat. Punggawa lain merasa ini bukan ranahnya. Apakah benar terjadi pelanggaran Sang Raja atau tidak, karena itu ranah MPK. Yang seharusnya segera mengambil sikap. Demi kejayaan dan keberlangsungan kerajaan. Punggawa kritis mempertanyakan keberanian MPK segera bergerak menyelamatkan dan mengembalikan marwah Kerajaan diatas angin yang sedang tahap persiapan menuju musyawarah kerajaan. Jika benar ada dugaan pelanggaran oleh sang Raja.

Salah satu pengikut setia kerajaan ikut prihatin jika hal ini berkepanjangan, dan tidak selesai sampai dilaksanakannya musyawarah kerajaan. Apa sebab? Hemat pengikut setia, secara etika posisi punggawa yang kena reshuffle jelas tidak bebas bergerak, bahkan tanda tanya "keabsahan menjadi calon" atau "dicalonkan dalam musyawarah kerajaan yang ditunggu. Sebelum posisinya dikembalikan.

Menjadi resistensi kepercayaan, yang berakibat timbul "mosi tidak percaya" kepada Sang Raja apabila mediasi tidak selesai. Dan ini bisa saja terjadi jika masing-masing berpedoman kepada aturan kosntitusi kerajaan. Karena "mosi tidak percaya" tidak dilarang, sekalipun tidak dianjurkan dalam aturan kosntitusi kerajaan. Namun sah saja. Tinggal berani atau tidak. Ini yang menuntut keseriusan semua pihak dalam menyelesaikan kemelut yang terjadi. Seperti dalam pembelaan sang Raja diatas, silahkan tempuh jalur konsistusi.

Ada dua frame yang segera diputuskan, kembalikan atau batalkan reshuffle atau diganti Sang Raja. Sekalipun tidak mudah mengganti Sang Raja. Tapi ada saja peluang. Dan ini yang sesungguhnya harus segera diambil oleh MPK, jika perdebatan tidak selesai, yang dinantikan punggawa kerajaan.

Jika itu semua tidak dilaksanakan, siap-siaplah warisan kerajaan akan "bubar", kata tetua kerajaan. Seperti banyak dikhawatirkan punggawa kerajaan. Dan ini tidak dikehendaki jika masing-masing ngotot atas pendiriannya. Namun pengikut setia optimis kerajaan akan mampu bertahan dari terpaan badai topan ini. Regenerasi Calon Sang Raja agar sukses berjalan. Telah disiapkan banyak pengganti sebagai putra mahkota kerajaan.

Karena sesungguhnya, jika melihat musyawarah para pendiri kerajaan,  yang terjadi sesungguhnya sudah saatnya Kerajaan berbenah dan butuh profil Sang Raja yang tak hanya cukup arif saja, namun dalam istilah jawa "weruh sakjeroning winarah" arif bijaksana untuk kebaikan semua, ahli strategi perang, diterima semua rakyatnya, dan malang melintang diseantero jagat kerajaan. Selamat datang dan ditunggu calon Sang Raja "weru sakjeroning winarah".

Pseudoscience dalam Tinjauan Filsafat Empiris

 


Pernahkah mendengar Pseudoscience? sesuatu yang dianggap ilmu, karena telah diyakini keumumannya, namun sesungguhnya belum memenuhi persyaratan sebagai ilmu. Kenapa? karena masih sebagai sebuah pemikiran yang berdasar atas teori-teori  yang mengedepan sebuah ide saja. Sementara ide-ide tersebut bukanlah sebuah ide yang memenuhi karakteristik dalam teori keilmuan.

Meskipun demikian Pseudoscience dapat menjadi science, apabila kedepannya memenuhi karakteristik dalam teori ilmu. Contohnya: Big Bang Theory, Black Holes, Cosmology, Electromagnetic fields, Psychiatry, Germ theory, Meteors, Tides in Connection with the Moon. Contoh ini yang semula dianggap sebagai Pseudoscience namun dalam perkembangannya sekarang sudah dianggap sebagai  science.

Fenomena Pseudoscience, berkembang dalam maasyarakat kita seperti : Acupuncture Theory, Modern Astrology, Quantum mysticism, Ufology, Mozart Effect, Urban Legends about the mind, Telepathy, Pyramidology, Perpetual motion, Hollow Earth, sampai ke Corp Circle. Kali ini kita akan membahas Pseudoscience pada Corp Circle dalam tinjauan filsafat empiris dari segi Ontologi, Epistimologi dan aksiologi.

Untuk membahas fenomena Corp Circle, terlebih dahulu kita memahami apa arti kata-kata tersebut. Ontologi, merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani, dengan tokohnya  Thales, Plato, dan Aristoteles. Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret (terlihat), maupun non kongkrit (tidak nampak) namun ada dan bisa dirasakan. 

Pertama, Ontologi adalah pengetahuan tentang "What" apa itu? memandang tentang segala sesuatu. Membicarakan substansi ilmu dengan realitas zat atau materi baik yang bisa iindera maupun tidak.

Sebagai contoh pernah ramai perbincangan tentang fenomena crop circle. Banyak orang berpendapat dan percaya sebagai "buatan Makhluk Luar angkasa" atau biasa disebut UFO.  Terbentuk secara misterius, umumnya terjadi di area ladang tanaman, sering kali muncul hanya dalam waktu semalam. 

Mengacu pada asal-usulnya, maka istilah "lingkaran tanaman" ini masih dipertahankan. Seringkali dikait-kaitkan dengan isu Benda Terbang Aneh (Beta) atau UFO, atau juga makhluk luar angkasa. Benarkah itu? Bagaimana sesungguhnya kajian fenomena  Crop Circle, dalam tinjauan ontologisnya?. 

Hemat penulis, seperti apa fenomena Crop circles dalam tinjuan ontologis, adalah sebuah fenomena benar keberadaanya dan pernah terjadi sebagai "lingkaran tanaman" dengan suatu pola teratur yang terbentuk secara misterius di area ladang tanaman. Fenomena crop circle pertama kali ditemukan di Inggris pada akhir 1970, berbentuk pola lingkaran sederhana. Setelahnya, pola tersebut kini cenderung bertambah rumit dan tidak terbatas hanya pada bentuk lingkaran. 

Kedua, Epistemologi adalah pengetahuan tentang "Why" mengapa, berkaitan dengan proses, kenapa bisa terjadi. Dalam bahasa Yunani, epistm, artinya "pengetahuan". Epistemologi melihat tentang hakikat dari pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas keyakinan. Banyak perdebatan dalam epistemologi berpusat pada empat bidang: (1) analisis filsafat terkait hakikat dari pengetahuan dan bagaimana hal ini berkaitan dengan konsep-konsep seperti kebenaran, keyakinan, dan justifikasi, (2) berbagai masalah skeptisisme, (3) sumber-sumber dan ruang lingkup pengetahuan dan justifikasi atas keyakinan, dan (4) kriteria bagi pengetahuan dan justifikasi.  

Hemat penulis, Corp Circle dalam tinjauan Epistemologi, cara memperoleh pengetahuan tersebut pada fenomena Corp Circle, pernah terjadi di daerah persawahan di Gunung Suru, Jogotirto, Berbah, di Sleman. Terjadi pada hari Minggu tanggal 23 Januari 2011 pukul 17.00 WIB, muncul lambang misterius berdiameter 60 meter yang dicurigai terkait dengan isu Beta atau makhluk luar angkasa yang dikenal dengan sebutan lingkaran tanaman atau crop circle . Lingkaran tanaman di ladang tersebut diyakini sebagai kejadian fenomena lingkaran tanaman yang pertama di Indonesia. 

Warga sekitar meyakini lambang tersebut adalah simbol pendaratan pesawat Beta dari planet lain, benarkah? boleh percaya, boleh tidak. Sebagian penduduk  juga percaya  tentang pesawat makhluk asing, termasuk kesaksian dari warga sekitar, akan penyebab fenomena tersebut. Sebagian menyebut disebabkan Sutet (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) milik PLN, maupun sebuah angin puting beliung terlihat naik turun di ladang tersebut dan membentuk lambang misterius tersebut.

Ketiga, Aksiologi adalah pengetahuan tentang bagaimana, untuk apa kemanfaatan dari suatu ilmu. Sebagai cabang filsafat ilmu aksiologi mempertanyakan bagaimana manusia memanfaatkan dan menggunakan ilmunya. Jadi yang ingin di capai oleh aksiologi adalah hakikat dan manfaat yang terdapat dalam suatu ilmu pengetahuan. Aksiologi berasal dari kata Yunani : axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai. Asal pemikiran Aksiologi, berfikir bagaimana kebermanfaatan dari suatu ilmu.

Hemat penulis corp circle dalam tinjauan aksiologi dapat dijelaskan bahwa lingkaran tanaman tidak disebabkan UFO, melainkan buatan manusia. Terbukti banyak fenomena sama di banyak negara lain membuktikan bahwa lingkaran tanaman adalah rekayasa buatan yang tujuannya dapat sebagai karya seni, komersial, maupun hanya lelucon kreatif. Meski pola yang digambarkan lingkaran tanaman terkadang terlihat rumit dan susah, banyak orang yang membuat lingkaran tanaman di berbagai negara-negara lain. Lingkaran tanaman tersebut adalah buatan manusia dan bukan fenomena antariksa.

Hal ini dapat dibuktikan dengan Setelah munculnya lingkaran tanaman di Sleman tersebut, seorang mahasiswa UGM Yogyakarta mengaku bahwa dia dan enam temannya dari Fakultas MIPA dan Ilmu Pertanian UGM adalah pelaku pembuat lingkaran tanaman di Sleman. Pengakuan tersebut muncul lewat situs studentmagz.com pada tanggal 25 Januari 2011. Wallahu Alam Bi Ashowab...

SUSUNAN PENGURUS PUSAT (PP PPVI-IGVIM) PERIODE TAHUN 2021-2026 PERUBAHAN I

SURAT KEPUTUSAN RESMI (SK PP PPVI-IGVIM) PERIODE  TAHUN 2021-2026 PERUBAHAN I SILAHKAN DOWNLOAD DISINI : SURAT KEPUTUSAN KETUA UMUM PENGURU...